Studi Sebut Inti Bumi Miring, di Bawah Indonesia Lebih Cepat Tumbuh

Studi Sebut Inti Bumi Miring, di Bawah Indonesia Lebih Cepat Tumbuh

Aisyah Kamaliah - detikInet
Selasa, 15 Jun 2021 07:15 WIB
IN SPACE - In this handout provided by the National Aeronautics and Space Administration, Earth as seen from a distance of one million miles by a NASA scientific camera aboard the Deep Space Climate Observatory spacecraft on July 6, 2015. (Photo by NASA via Getty Images)
Inti Bumi kemungkinan miring dan model baru tunjukkan inti tumbuh lebih cepat di bawah Indonesia daripada di sisi lain (di bawah Brasil) sekitar 60%. Foto: NASA via Getty Images
Jakarta -

Inti Bumi kemungkinan miring dan model baru tunjukkan inti tumbuh lebih cepat di bawah Indonesia daripada di sisi lain (di bawah Brasil). Kemungkinan ini diungkap oleh seismolog di UC Berkeley. Hipotesis dirinci dalam Nature Geoscience.

Mengutip IFL Science, ada banyak hal yang tidak manusia pahami tentang apa yang terjadi beberapa ribu kilometer di bawah kaki. Yang diketahui sejak lama adalah Bumi memiliki inti dalam yang padat, yang telah mengkristal setidaknya selama 500 juta tahun, tetapi mungkin lebih lama dari itu. Kristalisasi ini melepaskan panas, menjaga inti luar tetap cair. Gerakan inti luar menghasilkan medan magnet, melindungi kita dari radiasi kosmik.

Namun, kristalisasi inti bagian dalam tampaknya tidak seragam. Dengan mempelajari gerakan beberapa gelombang seismik yang dapat merambat melalui inti dalam, para ilmuwan memperhatikan bahwa beberapa bagian lebih baik dalam membuat gelombang melewatinya lebih cepat.

Untuk menjelaskan hal ini, model baru menunjukkan bahwa inti Bumi tumbuh lebih cepat di satu sisi (di bawah Indonesia) daripada di sisi lain (di bawah Brasil) sekitar 60%.

"Model paling sederhana tampak agak tidak biasa - bahwa inti bagian dalam asimetris," kata penulis utama Dr Daniel Frost dalam sebuah pernyataan.

"Sisi barat terlihat berbeda dari sisi timur sampai ke tengah, tidak hanya di bagian atas inti dalam, seperti yang dikatakan beberapa orang. Satu-satunya cara kami dapat menjelaskannya adalah di satu sisi tumbuh lebih cepat dari yang lain," tegasnya.

Meski begitu, ada batasan dalam model ini berdasarkan asumsi tertentu dan data-data yang baru terkumpul mengenai bagian dalam planet Bumi. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam Bumi dan lebih banyak data seismik untuk memvalidasi model ini.



Simak Video "Studi Plasma Konvalesen: Bisa Jadi Alternatif Namun Efektifitasnya Rendah"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/afr)