Meteorit Primitif Ungkap Misteri Tata Surya Kuno

Meteorit Primitif Ungkap Misteri Tata Surya Kuno

Rachmatunnisa - detikInet
Minggu, 16 Mei 2021 13:40 WIB
Ilustrasi Gunung Gamalama dan Air Bersih di Ternate.
Foto: Dikhy Sasra
Jakarta -

Para ilmuwan menemukan kandungan air dalam meteorit primitif. Temuan ini akan memperluas pemahaman kita tentang tata surya kuno.

Kandungan air begitu melimpah di tata surya kita, mulai dari cincin es Saturnus, air bawah permukaan di bulannya Enceladus, hingga air cair dan es yang terdeteksi di Mars, semua itu menunjukkan keberadaan air di luar Bumi.

Selama ini, ilmuwan menduga bahwa kandungan air diawetkan dalam sejenis meteorit yang dikenal sebagai kondrit berkarbon, mereka tidak pernah menemukan air dalam bentuk cair di bebatuan hingga sekarang.

Dalam sebuah studi baru, para peneliti mendeteksi adanya kantong kecil berisi air cair kaya karbon dioksida di meteorit yang berasal dari tata surya awal. Penelitian baru ini memperluas pemahaman kita tentang bagaimana planet berevolusi di tata surya kita karena jenis air meteorit ini dapat berkontribusi pada air di planet Bumi sejak lama.

"Penemuan air di batuan luar angkasa ini juga memberikan bukti langsung evolusi dinamis tata surya," kata penulis studi Akira Tsuchiyama, profesor peneliti di Ritsumeikan University di Jepang, dikutip dari Space.com.

Tsuchiyama dan rekannya mengamati lebih dekat pecahan meteorit Sutter's Mill, yang terbentuk 4,6 miliar tahun lalu dan jatuh ke Bumi pada 2012, mendarat di Amerika Serikat. Banyak potongan meteorit ditemukan di dekat situs perburuan emas Sutter's Mill dekat Sacramento, California.

Mereka menggunakan teknik mikroskop untuk melihat fragmen dan melihat kristal kalsit kecil yang menyimpan cairan yang lebih kecil (skala nano) yang mengandung setidaknya 15% karbon dioksida. Penemuan ini menegaskan bahwa air cair dan juga karbon dioksida kemungkinan ada di batuan antariksa purba.

"Pencapaian ini menunjukkan bahwa tim kami dapat mendeteksi cairan kecil yang terperangkap dalam mineral 4,6 miliar tahun lalu," kata Tsuchiyama.

Para peneliti berpikir bahwa asteroid induk dari batuan antariksa yang lebih kecil ini kemungkinan besar terbentuk dengan air beku dan karbon dioksida, yang berarti asteroid itu terbentuk di bagian dingin tata surya (kemungkinan besar di luar orbit Jupiter), baru kemudian menuju ke Bumi.

Dugaan ini sejalan dengan beberapa teori sebelumnya yang menyatakan bahwa asteroid yang kaya akan molekul seperti air terbentuk jauh di tata surya sebelum bergerak lebih dekat ke Matahari. Para peneliti juga berpikir bahwa temuan mereka dapat membantu menginformasikan pencarian asal-usul air di Bumi.

Tsuchiyama menyebutkan, ada banyak teori tentang dari mana dan bagaimana Bumi mendapatkan airnya. Salah satu teori terkemuka menyatakan bahwa air jatuh ke Bumi, terperangkap di dalam benda seperti meteorit, khususnya kondrit berkarbon. Menurut teori ini, molekul air yang tergabung dalam struktur kristal mineral di batuan luar angkasa ini bisa menjadi sumber air Bumi.

"Meski jumlah air cair yang ditemukan dalam penelitian ini sangat kecil, penelitian ini memberikan bukti keberadaan air cair tersebut. Dengan kata lain, jika air dalam mineral berkontribusi pada air Bumi, maka ia dapat dianggap sebagai induk air Bumi, dan meteorit yang menampung mineral ini, oleh karenanya adalah bahan 'nenek moyang' air Bumi," tutup Tsuchiyama.



Simak Video "Misi Astronot AS dan Jepang di Luar Angkasa"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fyk)