5 Risiko Bahaya Kecerdasan Buatan - Halaman 2

Ancaman AI

5 Risiko Bahaya Kecerdasan Buatan

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Sabtu, 24 Apr 2021 19:11 WIB
Ilustrasi AI
Foto: Istimewa

2. Pelanggaran privasi

Dalam makalah berjudul 'The Malicious Use of Artificial Intelligence: Forecasting, Prevention, and Mitigation' yang dipublikasikan pada Februari 2018, 26 peneliti dari 14 institusi berbagai sektor menemukan sejumlah bahaya yang bisa ditimbulkan oleh AI dalam waktu kurang dari lima tahun.

'Malicious use of AI', begitu judul laporan berjumlah 100 halaman, yang menjelaskan bagaimana AI bisa mengancam keamanan digital, yang dengan AI yang dilatih untuk melakukan tindak kriminal, meretas, atau melakukan social engineering terhadap korban, dan lain sebagainya.

Begitu juga soal privasi. Contoh terdekat adalah langkah pemerintah China untuk memanfaatkan teknologi pengenal wajah untuk mendeteksi pergerakan warganya, baik itu di kantor, sekolah, ataupun berbagai tempat publik lainnya.

3. Deepfake

Deepfake pun adalah salah satu produk hasil AI, yaitu dengan memanfaatkan AI untuk mengubah wajah dan suara dalam sebuah video. Pada awal kemunculan deepfake videonya masih mudah dinilai keasliannya.

Namun kini teknologi deepfake sudah semakin canggih dan sulit membedakan mana video yang hasil olahan deepfake atau video asli. Ke depannya, tentu AI untuk pengolahan deepfake ini bakal semakin canggih lagi.

3. Bias algoritma dan kesenjangan sosial

AI pun bisa punya bias terhadap hal tertentu. Pasalnya, AI dikembangkan oleh manusia, dan manusia tentunya bisa bias terhadap suatu hal.

Hal ini diutarakan Profesor Ilmu Komputer dari Universitas Princeton Olga Russakovsky, yang menyebut bias AI ini tak terbatas pada gender dan suku bangsa.

"Peneliti AI kebanyakan adalah laki-laki, yang datang dari demografis suku bangsa tertentu, yang juga tumbuh di area sosial ekonomi tinggi, dan kebanyakan orang-orang tanpa disabilitas. Kami kebanyakan homogen, yang menjadi tantangan untuk berpikir secara luas terhadap masalah di dunia," ujar Russakovsky.

Hal yang sama juga dikatakan oleh peneliti Google bernama Timnit Gebru. Ia menyebut sumber dari bias adalah sosial, bukan teknologi. Ia pun menyebut ilmuwan, seperti dirinya, adalah manusia yang paling berbahaya di dunia.

"Karena kami punya ilusi atas objektivitas," ujarnya. Padahal menurutnya ilmuwan harus bisa mengerti dinamika sosial dunia, dan karena perubahaan radikal di dunia berada pada level sosial.

Halaman selanjutnya: otomatisasi senjata...