Ilmuwan Siapkan Vaksin Corona Bentuk Pil Buat yang Takut Disuntik

Masa Depan Vaksin Corona

Ilmuwan Siapkan Vaksin Corona Bentuk Pil Buat yang Takut Disuntik

Rachmatunnisa - detikInet
Sabtu, 27 Mar 2021 11:30 WIB
A woman opens her mouth for lots of colorful pills on a spoon.
Buat yang Takut Disuntik, Ilmuwan Siapkan Vaksin Corona Bentuk Pil (Foto: iStock)
Jakarta -

Vaksin virus Corona dalam bentuk pil dijadwalkan memasuki tahap pertama uji klinis pada manusia tahun ini. Buat yang takut disuntik, ini bisa jadi opsi vaksinasi di masa depan.

Oravax, perusahaan yang mengerjakan vaksin tersebut, mengumumkan melalui siaran pers bahwa mereka berharap bisa memulai uji klinis tahap pertama ini di bulan Juni.

Langkah tersebut hanyalah tahap paling awal dari pengembangan vaksin. Tidak ada jaminan keberhasilan, dan meskipun berhasil, mungkin perlu waktu satu tahun atau lebih sebelum diizinkan untuk digunakan. Sebagai gambaran, Moderna dan Pfizer memulai uji coba pada manusia untuk pertama kalinya masing-masing di Maret dan Mei 2020.

Dikutip dari Business Insider, Sabtu (27/3/2021) vaksin oral atau lewat mulut adalah salah satu pilihan yang sedang dipertimbangkan sebagai vaksin generasi kedua yang dirancang agar lebih berskala, lebih mudah diberikan, dan lebih sederhana untuk didistribusikan.

Oravax adalah usaha gabungan dua firma, yakni perusahaan Israel-Amerika Oramed dan perusahaan India Premas Biotech. Menurut keduanya, vaksin oral berpotensi memungkinkan orang untuk mengambil sendiri vaksin tersebut di rumah.

"Vaksin tersebut dapat dikirim dalam lemari es biasa dan disimpan pada suhu kamar, sehingga lebih mudah secara logistik untuk mendapatkannya di mana pun di seluruh dunia," kata CEO Oramed Nadav Kidron.

Menanggapi kabar ini, Prof Paul Hunter, Profesor Kedokteran di University of East Anglia, mengingatkan sikap kehati-hatian dalam pengembangan vaksin oral ini.

"Kita membutuhkan studi yang benar untuk membuktikan manfaat vaksin oral. Tapi vaksin semacam ini mungkin juga bermanfaat bagi orang yang fobia jarum suntik, dan cara ini mungkin bisa lebih mudah dan lebih cepat untuk diberikan," ujarnya.

Dia menambahkan, vaksin Corona dalam bentuk oral mungkin juga dapat menawarkan manfaat lain dibandingkan vaksin yang disuntikkan di lengan.

"Vaksin sistemik (suntikan di lengan) umumnya sangat baik dalam mencegah penyakit yang parah, tetapi mungkin tidak bagus dalam mencegah infeksi," sebutnya.

Teorinya adalah, karena infeksi pertama kali terjadi di hidung dan tenggorokan, vaksin yang difokuskan pada area tersebut akan membantu menghentikan infeksi sebelum berkembang menjadi lebih buruk.

"Data tentang vaksin Oravax belum dipublikasikan hingga saat ini. Hasil uji pada hewan sangat menggembirakan. Tapi jangan berasumsi bahwa hasil pada hewan akan sama dengan manusia. Kita membutuhkan studi lebih lanjut untuk memastikannya," katanya.

Berbagai jenis lain dari vaksin generasi kedua pun sedang berupaya dikembangkan, antara lain vaksin COVID-19 yang disemprotkan ke hidung, atau vaksin yang mungkin ditempelkan ke kulit seperti plester luka.



Simak Video "Hingga Detik Ini, RI Sudah Terima 93 Juta Dosis Vaksin Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)