Fakta CNSA, Kibarkan Bendera China di Bulan Hingga Bawa Sampelnya ke Bumi

Fakta CNSA, Kibarkan Bendera China di Bulan Hingga Bawa Sampelnya ke Bumi

Tim detikcom - detikInet
Rabu, 06 Jan 2021 21:08 WIB
Tianwen-1 yang diluncurkan China (AFP Photo)
Tianwen-1 yang diluncurkan CNSA. (AFP Photo)
Jakarta -

CNSA jadi salah satu topik yang jadi trending di mesin pencari Google. Hal ini disebabkan penemuan puing logam berukuran besar di Teluk Ranggau, Sei Cabang, Kumai, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah dengan logo dan tulisan CNSA.

Puing tersebut diduga kuat milik China National Space Administration (CNSA) atau Badan Antariksa Nasional China.

Mengutip dari situs cnsa.gov.cn, Rabu (6/1/2021) CNSA adalah organisasi pemerintah China yang bertanggung jawab atas pengelolaan kegiatan ruang angkasa untuk penggunaan sipil dan kerja sama ruang angkasa internasional dengan negara lain.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, menyebutkan puing tersebut diduga adalah bagian dari roket yang dipakai untuk peluncuran satelit milik China.

Berikut fakta soal CNSA:

1. Kirim Misi Kibarkan bendera China di Bulan

Lewat misi Chang'e 5 pada Desember 2020 lalu, CNSA berhasil mengibarkan bendera China di Bulan menggunakan alat dengan sistem mekanis.

Hanya saja bendera tersebut tak ditancap di permukaan Bulan, melainkan dipasang pada wahana Chang'e 5.

Seperti dikutip dari Space, bendera China tersebut terbuat dari kain dengan berat hanya 12 gram dan diklaim warnanya mampu bertahan pada perbedaan suhu plus maupun minus 150 derajat celcius.

Material kain bendera itu dibuat secara khusus agar bendera dapat bertahan pada lingkungan bulan yang keras sehingga tidak pudar, berwarna, atau berubah bentuk.

2. Bawa Sampel Bulan Seberat 1,7 kg

Tak hanya mengibarkan bendera China, misi Chang'e 5 juga mengirimkan sampel permukaan Bulan ke Bumi. Kapsul yang membawa sampel tersebut telah mendarat di kawasan Mongolia pada 16 Desember 2020 lalu.

Kapsul tersebut membawa sampel sebanyak 1,7 kg. Seperti dikutip dari Universe Today, batuan Bulan itu merupakan sampel pertama dalam waktu 44 tahun terakhir.

Misi membuat China menjadi negara ketiga yang mampu membawa sampel dari Bulan setelah Amerika Serikat dan Uni Soviet.

CNSA lalu menyerahkan sampel Chang'e-5 ke laboratorium sampel bulan di National Astronomical Observatories di Chinese Academy of Sciences pada 19 Desember 2020.

Menurut pejabat terkait, penelitian sampel Bulan tersebut akan membantu memperluas pemahaman ilmiah tentang pembentukan dan evolusi alam.

3. Baru memulai program luar angkasa pada 1994

CNSA dibentuk pada tahun 1993, setahun setelah itu China secara resmi memulai proyek program luar angkasa. Terbilang baru jika dibandingkan dengan NASA, Amerika Serikat.

Program awal ini mengembangkan pesawat ruang angkasa bernama Shenzhou dengan mengandalkan desain pesawat ruang angkasa Soyuz Rusia yang dimodernisasi para insinyur China.

CNSA memiliki kantor pusat di Beijing. Badan ini punya 3 fasilitas peluncuran pesawat luar angkasa, yakni di Taiyuan di Provinsi Shanxi, Jiuquan di Provinsi Gansu, dan Xichang di Provinsi Sichuan.

4. Menyiapkan Misi Chang'e 6 Kembali ke Bulan

Tak berhenti di misi Chang'e 5, CNSA sudah mempersiapkan program lanjutan Chang'e 6.

Chang'e 6, dijadwalkan meluncur pada 2023 mendatang. Misi ini akan mengumpulkan lebih banyak sampel dari kutub selatan bulan.

CNSA juga telah merancang misi Chang'e 7 dan Chang'e 8. Hanya saja misi ini belum ditetapkan tahun peluncurannya.

(pal/erd)