Fakta di Balik Matahari yang Sedang Lockdown

Fakta di Balik Matahari yang Sedang Lockdown

Fino Yurio Kristo - detikInet
Selasa, 19 Mei 2020 18:44 WIB
Warga di Bulukumba sempat menyaksikan fenomena matahari memiliki cincin (Dok. Andi Afifah)
Warga di Bulukumba sempat menyaksikan fenomena matahari memiliki cincin (Dok. Andi Afifah)
Jakarta -

Matahari saat ini memasuki fase yang dijuluki sebagai lockdown atau solar minimum. Apa yang terjadi di balik fenomena ini dan seberapa berbahaya?

Ilmuwan mengatakan kita akan memasuki periode 'resesi' sinar Matahari karena sunspot atau titik hitam di matahari telah menghilang dari pandangan. "Solar Minimum sedang terjadi," kata astronom Tony Phillips.

Dikutip detikINET dari Science Alert, sebenarnya periode lockdown ini rutin terjadi dalam siklus 11 tahun Matahari dan sudah diperkirakan sebelumnya. Tahun 2017, NASA memproyeksi lockdown Matahari berlangsung antara 2019 dan 2020, akhirnya benar terjadi pada tahun ini.

Solar minimum adalah kebalikan dari solar maksimum dan siklus Matahari ini tidak terlalu tampak di Bumi. Kita mungkin akan melihat lebih banyak aktivitas aurora saat solar maksimum di mana peningkatan aktivitas itu mungkin berdampak pada komunikasi radio dan navigasi satelit.

"Saat solar minimum, radiasi ultraviolet menurun, namun efeknya terutama ada di stratosfer dan ketinggian. Ini membuat atmosfer Bumi sedikit menyusut. Juga ada peningkatan sinar kosmis galaktik dari sumber seperti supernova," papar Michelle Starr dari Science Alert.

Dampak yang mungkin cukup berbahaya bisa menimpa astronaut yang terpapar radiasi karena medan magnet Matahari melemah dan kurang dapat melindungi mereka dari sinar kosmis. Tapi solar minimum amat kecil kemungkinan menyebabkan musim dingin brutal, gagal panen, kelaparan dan erupsi gunung berapi yang sangat kuat.