Kisah Mencekam Para Pemburu Virus Berbahaya di Kelelawar

Kisah Mencekam Para Pemburu Virus Berbahaya di Kelelawar

Fino Yurio Kristo - detikInet
Senin, 27 Apr 2020 14:12 WIB
Koloni kelelawar
Kelelawar terbang. Foto: Steve Ritter/TNC
Jakarta -

Ada ilmuwan yang pekerjaannya mengumpulkan virus berbahaya di kelelawar. Hewan ini dikenal membawa banyak virus di tubuhnya. Mencari virus dari kelelawar adalah pekerjaan berbahaya dan mencekam.

Sebelum masuk gua sarang kelelawar, tim ilmuwan mengenakan kostum pelindung lengkap, masker dan sarung tangan tebal, menutup seluruh bagian tubuh. Dikutip detikINET dari CNN, Senin (27/4/2020) kontak sedikit saja dengan kotoran atau urin kelelawar bisa membuat mereka terpapar dengan virus mematikan yang mungkin belum teridentifikasi.

Memakai senter di kepala, mereka pun memasuki sistem gua di selatan Provinsi Yunnan, China. Mereka membius kelelawar itu, kemudian secara hati-hati mengambil sampel darah dari pembuluh darah di sayapnya.

"Kami juga mengumpulkan sampel di mulut dan tinja," kata Peter Daszak, ilmuwan dari EcoHealth Alliance, LSM asal Amerika Serikat yang fokus pada deteksi virus baru serta upaya mencegah pandemi.

Dalam 10 tahun terakhir, dia telah mengunjungi lebih dari 20 negara memburu virus di gua-gua. Virus yang dicarinya terutama adalah corona. Dia dan ilmuwan lain dengan pekerjaan sama, menyusun daftar virus dari binatang dan memprediksi yang mana kira-kira bisa menular ke manusia.

"Kami telah mengumpulkan lebih dari 15 ribu sampel di kelelawar yang membuat terindentifikasi sekitar 500 coronavirus baru," kata dia. Salah satunya, ditemukan pada tahun 2013, punya kemungkinan sebagai 'nenek moyang' COVID-19 yang merebak saat ini.

Sebelum epidemi SARS di 2003, riset coronavirus tak banyak menarik perhatian. "Tak dianggap cabang seksi riset medis," cetus Wang Linfa, ahli virologi National University of Singapore. Sebab, hanya dua coronavirus di manusia teridentifikasi sebelum itu, pada tahun 1960-an.

Di pihak lain, pada tahun 2009, didirikan Tracker, organisasi untuk memprediksi pandemi. Didanai oleh USAID, tugasnya adalah mengidentifikasi dan merespons jika ada penyakit baru yang dapat menular dari hewan ke manusia. Sejak berdirinya, ada 5 lagi jenis coronavirus manusia teridentifikasi, termasuk COVID-19.