Fakta Mencengangkan Pesawat NASA yang 'Menyentuh' Matahari

Fakta Mencengangkan Pesawat NASA yang 'Menyentuh' Matahari

Fino Yurio Kristo - detikInet
Sabtu, 07 Des 2019 15:59 WIB
Parker saat masa pembuatan. Foto: Courtesy Glenn Benson/NASA/Handout via REUTERS
Jakarta - Parker Solar Probe diterbangkan NASA pada tahun silam, tepatnya Minggu (12/8/2018) malam. Parker sukses diterbangkan dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat, lokasi yang sama dengan peluncuran satelit Merah Putih oleh SpaceX, perusahaan antariksa besutan Elon Musk.

Bedanya, pesawat luar angkasa itu menggunakan roket Delta-IV Heavy buatan United Launch Alliance. Kurang dari satu jam setelah peluncuran, NASA mengonfirmasi Parker sukses terpisah dengan bagian atas roket. Parker pun mengarungi luar angkasa menuju pusat Tata Surya, Matahari.

"Misi ini sungguh menandai kunjungan kemanusiaan pertama ke sebuah bintang," sebut Associate Administrator Direktorat Misi Ilmiah pada NASA, Thomas Zurbuchen. "Kami telah mencapai sesuatu yang beberapa dekade lalu, dianggap sebagai fiksi ilmiah," imbuhnya.

Mesin penjelajah ini diklaim menjadi objek tercepat yang pernah diciptakan oleh manusia, mampu tembus 700.000 kilometer per jam. Sebagai perbandingan, pesawat Lockheed SR-71 Blackbird sebagai pemegang rekor dunia untuk kecepatan tertinggi di udara, 'hanya' mampu menyentuh 3.529 kilometer per jam.


Parker juga menjadi pesawat luar angkasa pertama yang namanya diambil dari seorang tokoh yang masih hidup. Adalah Eugene Parker, seorang astrofisikawan berusia 91 tahun yang namanya diambil untuk kendaraan antariksa tersebut.

Alasannya adalah, Parker merupakan orang pertama yang mendeskripsikan angin surya (solar wind) pada 1958. Itu adalah aliran partikel bermuatan atau plasma yang menyebar ke segala arah dari atmosfer terluar Matahari.

Sekadar informasi, angin surya atau angin Matahari yang tidak bisa diprediksi kemunculannya dapat memicu gangguan pada bidang magnetis dan mengacaukan teknologi komunikasi. Hal tersebut tentunya selaras dengan misi Parker dalam mengumpulkan data untuk memecahkan sejumlah misteri dibalik perilaku Matahari.

Nantinya, dalam kurun waktu sekitar 7 tahun ke depan, pesawat antariksa tersebut akan mengitari Matahari selama 24 kali untuk mempelajari korona, yaitu lapisan terluar dari atmosfer milik pusat Tata Surya tersebut.