Kamis, 05 Des 2019 19:00 WIB

Prediksi Seram Ilmuwan Saat Matahari Tamat Riwayatnya

Rachmatunnisa - detikInet
Ilustrasi planet raksasa kehilangan atmosfernya karena white dwarf. Foto: ESO / M KORNMESSER via BBC Ilustrasi planet raksasa kehilangan atmosfernya karena white dwarf. Foto: ESO / M KORNMESSER via BBC
Jakarta - Tata Surya, seperti yang kita tahu menurut sains, tidak akan ada selamanya. Dalam sekitar enam miliar tahun, Matahari akan mengembang hingga sekitar dua ratus kali ukurannya saat ini. Dalam fase ini, bintang terbesar kita ini akan dikenal sebagai Raksasa Merah.

Saat mengembang, sang Raksasa Merah akan menelan dan menghancurkan Bumi sebelum runtuh menjadi inti kecil yang disebut white dwarf.


Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature ini, para peneliti menemukan bintang white dwarf yang terletak 2.000 tahun cahaya jauhnya, memiliki planet raksasa yang diperkirakan seukuran Neptunus di orbit sekitarnya.

"White dwarf yang kita lihat adalah sekitar 30.000 Kelvin, atau 30.000C. Jadi jika kita membandingkan Matahari, Matahari adalah 6.000C, hampir lima kali lebih panas. Ini berarti akan menghasilkan lebih banyak radiasi UV daripada Matahari," kata Dr Christopher Manser dari University of Warwick.

"Gaya gravitasi sangat besar sehingga jika terlalu dekat dengan white dwarf, seperti asteroid, gravitasinya sangat kuat sehingga asteroid akan terkoyak," sambungnya.

Planet raksasa ini kehilangan atmosfernya karena peninggalan bintang dan meninggalkan ekor seperti komet. White dwarf membombardir dunia dengan photon berenergi tinggi (partikel cahaya) dan menarik gas ke arahnya pada kecepatan lebih dari 3.000 ton per detik.

"Kami menggunakan teleskop yang sangat besar di Chile, yang merupakan teleskop kelas 8m untuk mengumpulkan spektroskopi dari white dwarf. Spektroskopi adalah metode memecah cahaya menjadi warna-warna komponennya," kata Dr Manser seperti dikutip dari BBC.

Disebutkannya, dengan melihat berbagai warna yang dihasilkan sistem, mereka mengidentifikasi fitur menarik yang memberi tahu ada cakram gas di sekitar white dwarf.

"Dan kami menyimpulkan, cakram gas ini diproduksi oleh sebuah planet seukuran Neptunus atau Uranus," jelasnya.

Para ilmuwan ingin mempelajari lebih lanjut sistem ini untuk menjelaskan apa yang bisa terjadi pada Tata Surya kita ketika Matahari mencapai akhir hidupnya.


"Ketika Matahari mencapai fase Raksasa Merah-nya, ia akan mengembang secara kasar ke orbit Bumi. Merkurius, Venus dan Bumi akan ditelan Matahari. Tetapi Mars, sabuk asteroid, Jupiter dan planet sisanya di Tata Surya akan mengembang pada orbitnya, karena Matahari kehilangan massa dan memiliki lebih sedikit tarikan gravitasi pada planet-planet itu," terang Dr Manser.

"Pada akhirnya, Matahari akan menjadi white dwarf dan masih memiliki Mars, sabuk asteroid, dan Jupiter yang mengorbit di sekelilingnya. Saat planet-planet mengorbit, mereka kadang-kadang dapat tersebar dan terlempar ke white dwarf," sambungnya.

Tetapi radiasi yang dipancarkan oleh Matahari, setelah menjadi white dwarf, akan cukup kuat untuk menguapkan atmosfer Jupiter, Saturnus dan Uranus di mana mereka mengorbit sekarang. Dan ini hanya akan meninggalkan inti mereka yang berbatu.

Simak Video "Bocah Magang di NASA Temukan Planet Baru"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fyk)