Senin, 11 Nov 2019 13:45 WIB

Kenapa RI Mau Bangun Bandara Antariksa di Biak?

Rachmatunnisa - detikInet
Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin. Foto: Grandyos Zafna/detikcom Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin. Foto: Grandyos Zafna/detikcom
Jakarta - Pulau Biak, Papua, resmi ditetapkan sebagai tempat bandara antariksa Indonesia beroperasi nantinya. Mengapa Biak? Apa keistimewaannya?

Dalam wawancara Blak-blakan detikcom, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin menyebutkan, Biak sudah sejak tahun 1980-an ingin dijadikan sebagai tempat bandara antariksa.



"Jadi para pendahulu di LAPAN sudah melihat prospek Biak sangat strategis untuk peluncuran roket karena posisinya di dekat ekuator," kata Djamal.

Sebelum terpilih Biak, pulau-pulau lain yang pernah menjadi kandidat sebagai tempat bandara antariksa adalah Morotai, Enggano dan Nias. Namun dibandingkan tiga pulai lainnya, Biak yang dinilai paling strategis dan menguntungkan.

Secara detail geografis, Biak terletak pada titik koordinat 0º55′-1º27′ Lintang Selatan (LS) dan 134º47′-136º48 Bujur Timur (BT). Posisi tersebut, sangat baik sebagai tempat peluncuran Roket Peluncur Satelit (RPS) ke Geostationary Earth Orbit (GEO) dan berdampak positif pada penghematan penggunaan bahan bakar roket ketika peluncuran.

"Kalau dekat ekuator, peluncuran untuk membawa satelit bisa ke berbagai arah, jadi bisa arah polar, dan yang jarang bisa dilakukan itu arah ekuatorial. Dan kalau diluncurkan dari ekuator akan lebih murah biayanya karena tidak perlu ada manuver untuk mengubah orbitnya," jelasnya.

Disebutkan Djamal, saat ini bandara peluncuran roket yang lokasinya dekat ekuator atau khatulistiwa baru ada di Kourou, Guyana, Prancis dan di Alkantara, milik Brasil. Itu pun untuk bandara Alkantara belum beroperasi.

"Di Afrika tidak ada. Di Asia Pasifik itu ditargetkan akan ada di Biak lokasinya," jelasnya.

Pembangunan bandara antariksa sendiri merupakan amanat UU No 21 Tahun 2013 tentang keantariksaan. Tujuannya, mewujudkan kemandirian ilmu pengetahuan dan teknologi penerbangan dan antariksa antara lain pengembangan teknologi Roket Pengorbit Satelit (RPS) yang dapat membawa wahana ke orbit.

"Amanat dalam UU itu juga sudah ditetapkan Perpres terkait rencana induk keantariksaan, salah satunya mimpi besar kita 2040, setidaknya menjelang 100 tahun Indonesia di 2045, Indonesia harus sudah mampu membuat satelit sendiri, membuat roket peluncurannya sendiri, dan meluncurkan dari Bumi Indonesia sendiri," ujarnya.



Simak wawancara lengkap dengan Thomas Djamaluddin dalam Blak-blakan detikcom: Bandara Antariksa, Satelit, dan UFO lewat video berikut ini.

[Gambas:Video 20detik]



(rns/fay)