Selasa, 27 Agu 2019 12:21 WIB

Kisah di Balik Penggalian Lubang Terdalam Dunia Sejauh 12 Km

Fino Yurio Kristo - detikInet
Halaman 1 dari 2
Proyek Kola Superdeep Borehole. Foto: (pechenga.ru) Proyek Kola Superdeep Borehole. Foto: (pechenga.ru)
Jakarta - Kola Superdeep Borehole di Murmanks, Rusia, sudah lama diabaikan, tapi statusnya sebagai lubang terdalam dunia belum tergoyahkan. Tentu ada kisah menarik di balik upaya penggalian yang tak main-main itu mengingat dalamnya mencapai 12 kilometer.

12 kilometer berarti lebih dalam dari palung Mariana dan jika orang menjatuhkan diri, butuh sekitar 3,5 menit untuk mencapai dasarnya. Begitu dalam sehingga warga lokal yakin orang bisa mendengar suara siksaan dari neraka di situ.

Dibuat di masa Uni Soviet, kala itu masih masa Perang Dingin. Selain perlombaan ke antariksa, negara superpower rupanya juga berkompetisi menggali ke kedalaman Bumi, bahkan ada ambisi untuk mencapai mantel planet ini.




Selain Uni Soviet, Amerika Serikat dan Jerman juga punya proyek penggalian. Seperti perlombaan antariksa, pertandingan menuju kedalaman Bumi melibatkan teknologi canggih masing-masing yang saling dirahasiakan.

'Hadiahnya' pun dianggap sepadan. Temuan sains di bawah sana, misalnya bebatuan, mungkin sama pentingnya dengan bebatuan di Bulan karena amat sukar didapatkan. Tapi pada akhirnya, tidak ada yang menang dalam kompetisi ini karena satu dan lain alasan.

Dikutip detikINET dari BBC, AS adalah yang pertama menggali pada akhir 1950-an. Organisasi American Miscellaneous Society menggeber Project Moonhole. Tapi mereka bukan menggali di tanah, melainkan di bawah lautan Pasifik di Guadalupe, Meksiko.

Keuntungan menggali dasar laut adalah kerak Bumi lebih tipis di sana. Akan tetapi, area kerak tertipis biasanya di bagian laut yang paling dalam.

Uni Soviet pertama kali menggali di sekitar wilayah Arktik pada tahun 1970 dengan proyek Kola Superdeep Borehole. Kemudian pada tahun 1990, German Continental Deep Drilling Program (KTB) dimulai di Jerman, yang berhasil menggali sampai 9 kilometer ke bawah tanah.

Seperti halnya misi ke Bulan, teknologi yang dibutuhkan harus diciptakan dari nol. Salah satu tantangannya adalah menggali lubang severtikal mungkin untuk meminimalisir torsi. Solusi yang mereka ketengahkan kini menjadi standar di industri minyak dan gas.




"Solusinya adalah mengembangkan sistem pengeboran vertikal. Hal itu pada saat ini sudah standar industri namun awalnya dikembangkan untuk KTB," sebut Uli Harms dari International Continental Scientific Drilling Program yang dulu terlibat dalam proyek KTB.

Semua proyek itu tidak berjalan sesuai rencana karena masalah biaya dan politik. Kongress AS misalnya, menghentikan pendanaan Project Mohole. Perlombaan menggali ke dalam Bumi pun bisa dibilang tidak seseru kompetisi ke antariksa antara AS dan Uni Soviet.

Halaman Selanjutnya: Proyek Kola Superdeep Borehole

(fyk/krs)