Rabu, 26 Jun 2019 22:12 WIB

Mars Disebut Sokong Kehidupan Lebih Dahulu dari Bumi

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Planet Mars. Foto: NASA Goddard Planet Mars. Foto: NASA Goddard
Jakarta - Bumi atau Mars, planet mana yang mendukung kehidupan terlebih dahulu? Kalau kamu menanyakan hal tersebut ke tim peneliti dari Western University, Kanada, maka Mars akan menjadi jawabannya.

Ya, studi terbaru yang mereka lakukan menunjukkan bahwa ada kemungkinan pembentukan dari kehidupan pertama di Mars terjadi mulai 4,48 miliar tahun lalu, hanya 'sesaat' setelah ia terbentuk 4,5 miliar tahun lalu. Hal tersebut terjadi setelah meteorit-meteorit selesai menghunjam Planet Merah itu.




Dari situ, baru lah kehidupan di Mars bermula sekitar 4,2 miliar sampai 3,5 miliar tahun yang lalu, setelah proses pembentukan itu selesai. Jika temuan ini benar adanya, maka kehidupan di Planet Merah dimulai lebih cepat sekitar 500 juta tahun ketimbang di Bumi.

Sebelumnya sudah diketahui bahwa jumlah dan ukuran meteorit yang menimpa Mars dan Bumi semakin mengecil seiring planet-planet itu terbentuk. Begitu dampak kehancurannya sudah tidak terlalu besar, maka ini memungkinkan lingkungan di dekat permukaan kedua planet itu mendukung benih-benih kehidupan untuk berkembang.

Lebih lanjut, tim Western University juga punya skenario kedua mengenai lini masa dari dimulainya kehidupan di Mars. Hal ini didasari pada terjadinya fase lanjutan dari dibombardirnya Mars, dan juga Bumi, yang berakhir sekitar 3,8 miliar tahun lalu. Dari situ, ada kemungkinan proses pembentukan kehidupan di dua planet itu baru dimulai ketika kehancuran tersebut mereda.

Dalam studi ini, Desmond Moser selaku pemimpin penelitian tersebut beserta timnya menganalisis butiran mineral tertua di Mars hasil dari tumbukan meteorit. Butiran-butiran purba itu diketahui hampir tidak mengalami perubahan lantaran mereka mengkristal di dekat permukaan Mars.

Sebagai perbandingan, butiran-butiran yang diambil dari titik-titik terdampak meteorit di Bumi dan Bulan menunjukkan bahwa ia telah mengalami perubahan lebih dari 80% sejak tumbukan itu terjadi. Berdasarkan hal tersebut, tim pimpinan Desmond berpendapat bahwa hujaman meteorit di Mars berakhir sebelum mineral yang dianalisis itu terbentuk.

Selanjutnya, itu berarti bahwa permukaan Planet Merah itu mulai menjadi objek yang dapat dihuni seiring dengan mulai tersedianya air di sana. Desmond dkk menyebut air juga sudah ada di Bumi pada saat itu, sehingga ada kemungkinan jam biologis dari sistem Tata Surya dimulai lebih cepat dari yang diketahui sebelumnya.




"Dampak dari meteorit raksasa pada Mars di antara 4,2 miliar dan 3,5 miliar tahun lalu mungkin mempercepat munculnya air dari dalam planet dan memulai babak pembentukan kehidupan," ujar Desmond dalam situs resmi Western University.

"Studi ini bisa jadi menunjuk tempat yang bagus untuk mengambil sampel dari Mars nantinya," katanya menambahkan.

Berarti, selebihnya ini menjadi tugas bagi negara-negara seperti Amerika Serikat dan China yang memiliki kemampuan mumpuni di bidang antariksa. Terlebih, negara pimpinan Donald Trump punya sosok seperti Elon Musk yang ingin ke Mars pada pertengahan periode 2020an, sedangkan Negeri Tirai Bambu sudah mencanangkan untuk ke Planet Merah pada 2020.


(mon/krs)