Selasa, 18 Jun 2019 19:25 WIB

Terungkap! Ini Asal Usul Awan Misterius di Mars

Virgina Maulita Putri - detikInet
Foto: NASA Goddard Foto: NASA Goddard
Jakarta - Robot penjelajah InSight dan Curiosity milik NASA telah beberapa kali mengamati adanya awan di langit planet Mars. Awan tipis berwarna biru ini berada di ketinggian 30 hingga 60 kilometer di atmosfer tengah Mars.

Rupanya awan misterius ini telah menjadi perhatian ilmuwan selama bertahun-tahun sejak pertama kali dilihat oleh robot penjelajah Pathfinder yang mendarat di Mars pada tahun 1997. Kini tim peneliti dari University of Colorado Boulder telah berhasil mengungkap asal usul dari awan misterius tersebut.




Dilansir detikINET dari LiveScience, Selasa (18/6/2019), awan ini disebut terbentuk dengan bantuan dari 'asap meteor'. Karena awan baru bisa terbentuk jika es atau molekul air di udara berhasil mendapatkan sesuatu yang padat untuk mengembun, seperti garam laut atau debu yang berhembus.

Teorinya seperti ini, setiap harinya atmosfer Mars dihantam oleh dua hingga tiga ton bebatuan luar angkasa yang kemudian hancur. Semua tabrakan tersebut meninggalkan banyak debu atau yang disebut asap meteor oleh peneliti.

Asap meteor ini kemudian menyebar di langit Mars dan mungkin cukup untuk sedikit uap air yang berada di atmosfer menjadi awan es yang tipis dan rapuh.

Untuk membuktikan bahwa teori ini mungkin berhasil, tim peneliti menjalankan beberapa simulasi komputer yang memperlihatkan bagaimana partikel terbang menembus atmosfer Mars.

Rupanya, awan baru terbentuk ketika ada meteorit yang menghasilkan cukup debu di langit. Jika tidak ada meteorit, maka tidak ada awan yang muncul.




Tim peneliti ini juga menemukan bahwa asap meteor ini memiliki efek yang cukup besar terhadap iklim di Mars. Pada waktu tertentu, awan es di Mars meningkatkan suhu hingga 18 derajat Celcius di atmosfer bagian atas Mars. Jika hal tersebut benar adanya, maka debu dari objek luar angkasa asing bisa mempengaruhi cuaca di Mars bahkan di Bumi.

"Kita terbiasa memikirkan Bumi, Mars dan objek lain sebagai planet yang benar-benar mandiri yang menentukan iklim mereka sendiri. Tapi iklim bukan sesuatu yang independen dari tata surya sekitarnya," kata mahasiswa pascasarjana University of Colorado Victoria Hartwick dalam keterangan resminya.


(vmp/krs)