Kenapa Banyak Orang Meninggal di Gunung Everest?

Kenapa Banyak Orang Meninggal di Gunung Everest?

Fino Yurio Kristo - detikInet
Selasa, 28 Mei 2019 11:21 WIB
Antrean di Everest. Foto: Facebook
Jakarta - Gunung tertinggi di dunia, Everest, telah memakan banyak korban. Laporan terbaru menyebutkan, sudah 11 pendaki meninggal dunia pada tahun 2019.

Antrean menuju puncak mungkin berkontribusi dalam meninggalnya 7 pendaki minggu ini saja. Salah satu pendaki yang tewas, Nihal Bagwan yang berusia 27 tahun asal India, terjebak dalam 'kemacetan' selama 12 jam dan mungkin kelelahan.

Everest berada di ketinggian 8.848 meter di atas permukaan laut dan berbahaya jika pendaki kurang pengetahuan atau persiapan. Dikutip detikINET dari Live Science, pendaki bisa mulai merasakan 'mountain sickness' atau penyakit ketinggian di tahap 2.500 meter atau masih jauh di bawah.




Menurut Dr. Andrew Luks dari University of Washington School of Medicine, Acute mountain sickness (AMS) tidak fatal tapi bisa membuat pendaki merasa kepayahan. AMS menimpa 77% pendaki yang mendaki ketinggian antara 1.850 sampai 5.895 meter.

Terkena AMS, pendaki akan merasa mual, muntah, sakit kepala dan lemah lesu. AMS bisa dicegah antara lain dengan minum obat dan berhenti dulu mendaki. Jika gejala tak kunjung sembuh dalam satu atau dua hari, Luks menyarankan pendaki turun gunung saja.

Penyakit lebih serius misalnya High-altitude cerebral edema (HACE) yang membuat otak bengkak serta High-altitude pulmonary edema (HAPE) di mana cairan muncul di jantung. Kondisi tersebut langka tapi bisa mematikan.

HACE berdampak pada 1% orang yang mendaki lebih dari 2987 meter. Sekali otak bengkak, pendaki bisa kehilangan keseimbangan, menurun kondisi mentalnya atau merasa sangat lelah. Bahkan bisa berujung pada koma. Banyak penderita HACE dimulai dari AMS.

Penderita HACE harus turun secepat mungkin dan jika perlu, diberi suplemen oksigen. Adapun HAPE melanda 8% pendaki di ketinggian antara 2.500 sampai 5.500 meter. Jika cairan menumpuk di jantung, bisa membuat gerakan melambat, dan batuk-batuk.

Kondisi di Everest diperparah dengan antrean panjang. Dan selain penyakit yang sudah disebutkan, hyportemia, beku, dan kelelahan bisa membuat pendaki makin menderita.




"Semakin lama seseorang berada di ketinggian, makin besar risikonya. Dan jika mereka tidak bisa turun karena antrean panjang di pegunungan, susah bagi mereka mendapat pengobatan," sebut Dr. Luks.

Saat mengantre itulah, pendaki mungkin tidak makan, minum atau tidur. Mereka juga banyak memakai supai oksigen berharga. Diperparah lagi meski kondisinya buruk, pendaki tetap ingin menuju puncak.

"Orang-orang itu menghabiskan banyak waktu dan uang. Dan jika hari terasa cerah, sulit meyakinkan mereka untuk mengurungkan niatnya," pungkas dia.


(fyk/krs)