Selasa, 05 Mar 2019 08:15 WIB

30 Tahun Lagi, Bulan Tiruan China Mulai Bersinar

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Foto: Dok Foto: Dok
Jakarta - Masih ingat dengan rencana China untuk membuat Bulan tiruan? Setelah hanya disebut sebagai 'satelit yang mampu memantulkan cahaya Matahari', kini wujud sebenarnya dari Bulan artifisial sudah diketahui, yaitu panel surya luar angkasa, atau space solar plant (SSP).

Proyek ini tentu sangat ambisius. Potensinya membuatnya disebut sebagai sumber energi terbarukan terbesar dan dapat memenuhi kebutuhan listrik seluruh manusia menurut National Space Society (NSS). Para peneliti pun beranggapan bahwa SSP akan sangat mahal.

Walau demikian, dua tahun lalu, pemerintah China sudah berniat untuk berinvestasi besar-besaran untuk sumber energi terbarukan, meliputi tenaga matahari, angin, air, dan nuklir, pada 2020. Nilainya pun tak main-main, yaitu 2.5 triliun yuan, atau kini bernilai Rp 5.271 triliun, sebagaimana detikINET kutip dari CNN, Selaas (5/3/2019).

China Aerospace Science and Technology Corporation, alias badan antariksa milik pemerintah Negeri Tirai Bambu, berharap SSP itu sudah bisa beroperasi pada 2050.

Berarti, butuh 30 tahun bagi panel surya luar angkasa itu untuk beroperasi setelah diluncurkan, mengingat China berencana mengirimnya ke orbit pada 2020.

Untuk membangunnya, seluruh komponen yang dibutuhkan, mulai dari panel dan teknologi untuk mentransmisikan energi, akan dilontarkan ke luar angkasa. Mereka baru akan dipasang di sana, mungkin ini yang membuatnya butuh waktu hingga siap digunakan.

Rencananya, ia akan ditempatkan di orbit geostationer yang berada 36.000 km di atas Bumi. SSP itu akan mengirim energi, entah itu bentuknya laser atau gelombang mikro, ke Bumi dan dikonversi menjadi tenaga listrik agar dapat didistribusikan melalui SUTET. Stasiun penerima energi dari SSP itu sendiri dibangun di Xian, Provinsi Shaanxi, China.

Para ahli memperkirakan, SSP itu akan sangat besar. Paling tidak, untuk menghasilkan daya sebesar 1 gigawatt, maka ukurannya dapat mencapai 2 kilometer persegi, atau sekitar 4 kali luas Britania Raya.

Hal ini menjadi masuk akal dengan klaim sebelumnya yang menyebut Bulan artifisial tersebut bakal delapan kali lebih terang dari satelit alami Bumi sungguhan. Biaya listrik yang dapat dihemat pun bisa menyentuh angka 1,2 miliar yuan.

Menarik untuk ditunggu apakah China benar-benar bisa mewujudkan Bulan tiruan dalam kurun waktu sekitar 3 dekade lagi. (rns/rns)