Jumat, 18 Jan 2019 12:40 WIB

Arah Utara-Selatan di Bumi Akan Tertukar Seabad Lagi?

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Foto ilustrasi Bumi: NASA via Getty Images Foto ilustrasi Bumi: NASA via Getty Images
Jakarta - Baru-baru ini sejumlah ahli geomagnetik dunia dibikin panik lantaran pergerakan kutub magnet utara Bumi. Hal tersebut membuat medan magnet Bumi menjadi berubah.

Kutub magnet utara Bumi saat ini sedang bergerak dari Samudra Arktik yang menyentuh wilayah Kanada menuju Siberia, Rusia, dengan kecepatan yang di luar dugaan. Phil Livermore, ahli geomagnetik dari University of Leeds, mengatakan bahwa Kanada telah kehilangan medan magnet atas Siberia.

Sekadar informasi, pada Bumi bagian utara, terdapat dua area besar yang menghasilkan daya magnet amat kuat. Hal tersebut muncul dari cairan besi yang mengalir di sekitar inti dari Planet Biru ini.

Nah, dua area tersebut masing-masing berada di bawah Kanada dan Siberia. Keduanya melakukan gaya tarik-menarik sehingga menjadi hal yang wajar ketika kutub magnet utara Bumi mengalami pergeseran dan memengaruhi medan magnet di seluruh dunia.




Masih berkaitan dengan medan magnet Bumi. Sejumlah laporan menyebut bahwa medan magnet di planet ini telah melemah sebesar 10% selama 150 tahun terakhir. Jika jangka waktunya diperlebar, maka persentasenya pun makin besar, yaitu 16% sejak 1840, atau 179 tahun lalu.

Sejumlah ilmuwan menyebut bahwa itu merupakan tanda dari pertukaran antara kutub magnet utara dengan selatan. Fenomena tersebut akan sanggup membuat seluruh aspek di dalam Bumi bingung lantaran arah utara akan tertukar dengan selatan.

Beberapa ilmuwan dari University of Taiwan pun memprediksi kapan fenomena tersebut akan terjadi. Mereka melakukan penelitian di Gua Sanxing yang berada di sebelah barat daya China.

Tim tersebut mempelajari pertumbuhan tahunan dari lapisan-lapisan stalagmit di sana. Tiap stalagmit yang memiliki panjang inti 3 inch, atau sekitar 7,2 cm, mewakili periode sepanjang 16.000 tahun.




Dari situ, setelah melakukan analisis terhadap unsur magnetiknya, mereka menemukan dua periode waktu yang mengalami pelemahan medan magnet. Keduanya berada pada rentang 105.000-103.000 dan 98.000-92.000 tahun yang lalu.

Kemudian, mereka memprediksi bahwa proses pertukaran arah antara utara dan selatan akan selesai dalam kurun waktu 144 tahun lagi. Mereka menyebut ada kemungkinan jarak beberapa dekade hasil dari kesalahan pada metode penelitian yang mereka lakukan.

Setelah fenomena tersebut rampung terjadi, maka masyarakat Bumi akan kembali mendapat arah utara dan selatan yang sebagaimana mestinya. Terbaliknya dua arah itu memang sudah lama tak terjadi.

Terakhir fenomena tersebut muncul pada 780.000 tahun yang lalu. Jika dirata-rata, dalam 20 juta tahun terakhir, Bumi mengalami pertukaran kutub magnet utara dan selatan selama 200.000 hingga 300.000 tahun sekali.




Itu berarti, waktu yang berjalan memang sudah cukup jauh dari rataan kejadian pertukaran arah utara dan selatan itu. Lamanya fenomena tersebut bisa muncul lantaran prosesnya cukup panjang, butuh ribuan tahun lamanya.

Terkait dengan kejadian langka tersebut, banyak yang menyebut bahwa melemahnya medan magnet Bumi, dengan diikuti oleh pertukaran arah utara dan selatan, akan menyebabkan Bumi 'telanjang' dari serangan material-material ledakan yang terjadi pada atmosfer Matahari.

Padahal, berdasarkan keterangan pada laman resmi NASA, justru melemahnya medan magnet akan diikuti dengan mengecilnya radiasi Matahari terhadap Bumi. Selain itu, masih ada atmosfer yang cukup tebal dalam memberikan perlindungan terhadap partikel-partikel dari Matahari.

Lebih lanjut, badan antariksa Amerika Serikat tersebut juga mengatakan bahwa aurora akan muncul di ketinggian yang lebih rendah dari biasanya ketika pertukaran kutub magnet terjadi. Mereka pun menegaskan fenomena ini tidak menimbulkan efek yang mematikan.

(mon/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed