Senin, 26 Nov 2018 20:40 WIB

Buruknya Kondisi Bumi Kini Sama seperti 3-5 Juta Tahun Lalu

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Kekeringan seperti ini sangat mungkin terjadi sebagai akibat dari pemanasan global gara-gara penumpukan gas rumah kaca di atmosfer Bumi. Foto: Internet Kekeringan seperti ini sangat mungkin terjadi sebagai akibat dari pemanasan global gara-gara penumpukan gas rumah kaca di atmosfer Bumi. Foto: Internet
Jakarta - Bagi yang belum tergerak untuk ikut gerakan-gerakan menyelamatkan Bumi atau menerapkan gaya hidup ramah lingkungan, mungkin ini adalah saat yang tepat. Kadar karbon dioksida, metana, dan dinitrogen monoksida (yang juga dikenal dengan gas tertawa) di atmosfer sudah amat sangat parah.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), lembaga yang berada di bawah naungan PBB, menyebutkan sejumlah gas rumah kaca itu terus meningkat. Terlebih, tidak ada tanda-tanda bahwa ketiganya akan mengalami penurunan.




Efeknya pun tak main-main. Peningkatan permukaan air laut hingga cuaca ekstrem hanya beberapa di antaranya, sebagaimana detikINET kutip dari Quartz, Senin (26/11/2018).

"Terakhir kali Bumi mengalami konsentrasi CO2 di atmosfer seperti ini adalah pada 3-5 juta tahun lalu, saat suhu 2-3 derajat Celsius lebih panas dan permukaan air laut 10-20 lebih tinggi dari kondisi sekarang," ujar Sekjen WMO Patteri Taalas.

Kadar CO2 di atmosfer sepanjang tahun lalu sudah menyentuh 405,5 ppm, sekaligus menjadi rekor baru. Pada 2016, konsentrasi karbon dioksida di atmosfer berada di angka 403,3 ppm, dan 400 ppm di tahun sebelumnya.

Lalu, kadar metana 2,5 kali lebih tinggi dibanding sebelum Revolusi Industri. Sedangkan konsentrasi dinitrogen monoksida, yang mampu mengikis ozon, 20% lebih tinggi sebelum periode yang sama.

Di samping itu, tampak juga kemunculan kembali dari CFC-11 yang turut berpotensi menghabisis lapisan ozon. Padahal, salah satu gas rumah kaca tersebut sudah diatur secara internasional.

Secara akumulatif, radiative forcing (selisih antara panas Matahari yang diterima Bumi dengan yang dipantulkan kembali ke angkasa), yang disebabkan oleh gas rumah kaca sudah meningkat sebesar 41% sejak 1990.

"Tanpa pengurangan CO2 dan gas rumah kaca lainnya di atmosfer secara signifikan, maka perubahan iklim akan semakin membahayakan dan memberikan efek besar bagi kehidupan di Bumi. Peluang untuk melawannya kembali pun sudah hampir tertutup," tutur Taalas.




Secara teori, pohon berguna menyerap CO2 untuk tumbuh. Sehingga menanam banyak pohon berarti mengurangi kadar karbon dioksida dengan jumlah yang besar juga. Tapi kenyataannya tak semudah itu.

Ini permisalannya. Jika kita semua mampu menanam pohon sampai seluas hampir 700 juta hektar, maka akan terdapat sekitar 10% gas rumah kaca yang dipangkas.

Sayangnya, lahan seluas itu hampir setara dengan luas Amerika Serikat. Jika cara ini dilakukan, maka berpotensi dapat mengambil lahan untuk perkebunan dan pertanian yang berpotensi membuat kita semua kelaparan.


(mon/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed