Senin, 25 Jun 2018 11:35 WIB

Kontroversi NASA Gagalkan Astronot Kulit Hitam ke Antariksa

Agus Tri Haryanto - detikInet
Jeanette Epps curhat. Foto: istimewa Jeanette Epps curhat. Foto: istimewa
Jakarta - Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) membatalkan astronot Jeanette Epps yang berkulit hitam untuk menjalankan misi ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Keputusan itu jadi kontroversi karena dilakukan sepihak, bahkan tanpa diberikan penjelasan dibatalkan misi tersebut.

Epps seharusnya berada di jajaran astronot dalam misi Expeditions 56 dan 57. Bila hal itu benar-benar dilakukan Epps, maka tonggak sejarah akan terjadi, di mana Epps menjadi awak ras Afrika-Amerika pertama yang tinggal di ISS dalam jangka panjang.

Dalam sebuah wawancara di festival tahunan Tech Open Air yang dikutip dari Space, Senin (25/6/2018) Epps mencurahkan isi hatinya mengenai pembatalan misi antariksa yang sudah ia idam-idamkan.



"Saya tidak tahun dari mana keputusan itu berasal dan bagaimana keputusan itu dibuat, secara detail atau pada tingkat apa," ucapnya.

Epps merupakan seorang insiyur aerospace dan mantan analisis CIA. Ia bergabung dengan korps astronot NASA pada tahun 2009.

Harapan Epps mendadak hancur berantakan, tatkala NASA mengungkapkan posisinya diganti oleh Serena Auñón-Chancellor pada Januari lalu. Pada 6 Juni kemarin, Chancellor bersama Kosmonot Sergey Prokopyev dan astronot Badan Antariksa Eropa (ESA) meluncur ke antariksa melalui Soyuz di Baikonur Cosmodrome di Kazakhstan.

Epps menceritakan sebelumnya kalau ada astronot gagal menjalankan tugas, itu disebabkan masalah kesehatan dan keluarga. Sedangkan, ia tak mengalami keduanya. Bahkan, ia mengklaim telah lulus semua ujian dan pelatihan yang diperlukan bagi astronot untuk ke ruang hampa.

"Dengan semua pelatihan yang telah saya lakukan dan selesaikan di Houston (Amerika Serikat), Rusia, Jerman, Jepang, semuanya telah selesai," ungkap dia.

Epps juga mengkhawatirkan bila hasil jerih payah pelatihan tersebut akan terbuang sia-sia apabila dia tidak segera pergi ke luar angkasa. Terlebih, faktor lainnya juga turut menjadi batu sandungan bagi Epps.



"Saya pikir apa yang terjadi segera adalah kita akan kehabisan kursi Soyuz, karena kita akan membangun kendaraan komersil melalui SpaceX milik Elon Musk dan melalui Boeing. Kami akan lebih sedikit mendapat kursi di Soyuz. Jadi, saya tidak yakin, jika di masa depan ditugaskan berada di Soyuz, meskipun semua pelatihan untuk Rusia telah selesai," keluhnya.

Selama menunggu informasi lebih lanjut, Epps saat ini mengerjakan tugas dengan korps Astronot di Houston, termasuk bekerja pada program Orion dari NASA dan melayani CAPCOM, penghubung antara astronot di luar angkasa dan pengendali penerbangan di Mission Control. (agt/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed