BERITA TERBARU
Kamis, 12 Apr 2018 13:39 WIB

Kata LAPAN Soal Bumi Mau Dihantam Badai Matahari

Agus Tri Haryanto - detikInet
Ilustrasi badai Matahari. Foto: Internet Ilustrasi badai Matahari. Foto: Internet
Jakarta - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengklarifikasi terkait kabar bahwa pada minggu ini, Bumi akan dihantam oleh Badai Matahari.

Tiar Dani, salah seorang Peneliti Pusat Sains Antariksa LAPAN, menyebutkan aktivitas Matahari pada saat ini sedang berada di kondisi yang normal. Pernyataan ini sekaligus meluruskan tentang pemberitaan tentang Badai Matahari yang sempat bikin heboh sebelumnya.

Dijelaskan Tiar bahwa, badai Matahari yang dimaksud bukanlah demikian, melainkan badai geomagnet akibat lubang korona 3-4 hari yang lalu.

"Kondisi geomagnet di Indonesia sempat aktif 24 jam terakhir, tapi diperkirakan 24 jam kedepan sudah tenang," ucapnya seperti dikutip dari akun Instagram LAPAN, Kamis (12/4/2018).



Diberitakan sebelumnya, Pusat Prakiraan Cuaca Ruang Angkasa (SWPC) yang berlokasi di Colorado, AS, memperingatkan akan adanya badai matahari yang menghantam bumi. Badai tersebut diperkirakan datang pada minggu ini.

Dilansir dari Fox News, Rabu (11/4), Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) menyatakan melihat lubang polaritas koronal dengan aliran kecepatan tinggi dalam pengamatannya. Tak dijelaskan kapan tepatnya badai tersebut akan tiba di bumi.

Peneliti NASA Alex Young dalam laporan yang diterbitkan Senin (9/4), menyebut setidaknya ada tiga lubang koronal substansial yang mendemonstrasikan medan magnet matahari. Pengamatan tersebut terlihat pada Minggu (8/4).

"Ini adalah area medan magnet terbuka dari angin matahari berkecepatan tinggi yang bergerak ke luar ke angkasa," ujar Young.

"Angin matahari ini, jika ia berinteraksi dengan magnetosfer (bumi), dapat memunculkan aurora di dekat kutub," imbuhnya.



Badai magnetik di permukaan matahari dapat membentuk apa yang dikenal sebagai 'jilatan api matahari'. Jika badainya cukup kuat, maka akan menyebabkan pelepasan massa koronal (CME).

"(CME) adalah ledakan besar medan magnet dan plasma dari koronal matahari," jelas SWPC.

"Ketika CME berdampak pada magnetosfer Bumi, mereka bertanggung jawab atas badai geomagnetik dan menyebabkan adanya aurora," lanjutnya. (agt/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed
  • Fotostop: Biru Kuis

    Fotostop: Biru

    Jumat, 27 Apr 2018 10:41 WIB
    Warna biru memberikan kesan menenangkan, tenang dan juga damai. Warna biru pun bisa dijadikan objek foto yang menarik. Yuk ikutan kuis fotostop detikINET.
  • Jaringan XL Diklaim Selimuti 93% Indonesia

    Jaringan XL Diklaim Selimuti 93% Indonesia

    Jumat, 27 Apr 2018 10:18 WIB
    Hingga saat ini, cakupan jaringan data operator seluler ini telah melayani di kurang lebih 4.226 kecamatan yang berada di 406 kota/kabupaten di Tanah Air.
  • Pasar Ponsel Melemah, Samsung Tetap Untung

    Pasar Ponsel Melemah, Samsung Tetap Untung

    Jumat, 27 Apr 2018 09:30 WIB
    Samsung Electronic mengungkap pasar ponsel secara global melemah dan memperlambat pertumbuhan pemasukkannya. Kendati begitu mereka masih meraup keuntungan.
  • Nokia N Series Siap Bangkit dari Kubur

    Nokia N Series Siap Bangkit dari Kubur

    Jumat, 27 Apr 2018 09:04 WIB
    HMD Global kembali akan membangkitkan ponsel Nokia yang tenar di masanya. Vendor asal China itu dikabarkan bakal merilis ponsel N-Series dalam waktu dekat.
  • Janji Untung Cuma 5% ala Xiaomi

    Janji Untung Cuma 5% ala Xiaomi

    Jumat, 27 Apr 2018 07:23 WIB
    Bos Xiaomi Lei Jun berjanji kalau perusahaannya itu akan membatasi laba bersih alias untung setelah pajak untuk penjualan produknya sebesar 5%. Kenapa?
  • Ganti Presiden, Nintendo Siap Pecahkan Rekor

    Ganti Presiden, Nintendo Siap Pecahkan Rekor

    Jumat, 27 Apr 2018 06:45 WIB
    Nintendo mengumumkan nama baru yang akan menjadi presiden. Pergeseran jabatan ini diharapkan dapat mengalahkan rekor keuntungan yang ditorehkannya 9 tahun lalu.