Rabu, 21 Mar 2018 14:54 WIB

Hari Tanpa Bayangan Tampar Penganut Bumi Datar

Agus Tri Haryanto - detikInet
Ilustrasi hari tanpa bayangan. Foto: Muhammad Ridho/detikcom Ilustrasi hari tanpa bayangan. Foto: Muhammad Ridho/detikcom
FOKUS BERITA Hari Tanpa Bayangan
Jakarta - Fenomena hari tanpa bayangan memberi penjelasan bahwa Bumi memang bulat. Fenomena ini memberi tamparan terhadap para penganut teori Bumi datar.

"Penjelasan ini tidak bisa dijelaskan dengan konsep Bumi datar," ujar Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin, Rabu (21/3/2018).

Hari tanpa bayangan terjadi karena Matahari berada tepat di garis khatulistiwa, wilayah-wilayah yang dilaluinya akan berdampak pada tidak tampaknya bayangan pada siang hari.


Thomas menjelaskan, hari tanpa bayangan menjadi ajang edukasi kepada publik tentang kemiringan sumbu rotasi Bumi terhadap orbit Bumi. Kemiringan Bumi menyebabkan Matahari tampak berubah posisi dari selatan ke utara dan balik lagi ke selatan.

Ketika posisi Matahari di langit sama dengan lintang tempat suatu kota, pada tengah hari, Matahari tepat berada di atas kepala. Sehingga benda tegak bayangannya jatuh di dasar benda tersebut.

Hari Tanpa Bayangan Tampar Penganut Bumi Datar Hari tanpa bayangan berdampak pada saluran TV kabel Foto: Adi Fida Rahman/detikINET


Fenomena alam ini pun sekaligus menjadi penanda kita sedang menuju pergantian musim. Disampaikannya, pergeseran periodik Matahari menyebabkan perubahan pemanasan Bumi, sehingga terjadi perubahan musim dengan ditandai perubahan suhu di daerah lintang tinggi dan perubahan arah angin dan daerah pembentukan awan.

"Perubahan arah angin dan pembentukan awan tersebut yang menyebabkan perubahan musim di Indonesia dengan adanya musim hujan dan kemarau," kata pria lulusan Kyoto University ini.

"Bumi bulat menjelaskan semua fenomena musim secara logis," ucapnya Thomas.


Indonesia, disebutkan LAPAN, mengalami hari tanpa bayangan sebanyak dua kali pada tahun ini, yaitu pada 21 Maret dan 23 September 2018. Daerah-daerah yang berada dilalui garis khatulistiwa akan mengalami fenomena alam ini.

Peristiwa hari tanpa bayangan terjadi karena Bumi beredar mengitari Matahari pada jarak 150 juta kilometer dengan periode sekitar 365 hari. Garis edar Bumi berbentuk agak lonjong sehingga Bumi kadang bergerak lebih cepat dan kadang bergerak lebih lambat.

Bidang edar Bumi disebut sebagai bidang ekliptika. Bidang ini miring sebesar 23,4 derajat terhadap bidang ekuator Bumi. Karenanya, Matahari tampak berada di atas belahan Bumi utara selama sekitar setengah tahun dan berada di atas belahan Bumi selatan setengah tahun sisanya.

"Perubahan posisi tampak Matahari menyebabkan perubahan musim di Bumi, misalnya empat musim di daerah subtropis dan juga musim kering-basah di wilayah Indonesia," jelas Kepala Bagian Hubungan Masyarakat LAPAN Jasyanto. (agt/fyk)
FOKUS BERITA Hari Tanpa Bayangan

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed