Senin, 19 Mar 2018 15:45 WIB

Peninggalan Terakhir Stephen Hawking dan Paradoks Multiverse

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Stephen Hawking wafat di usia 76 tahun. Foto: Getty Images Stephen Hawking wafat di usia 76 tahun. Foto: Getty Images
Jakarta - Dua minggu sebelum meninggal, ilmuwan kenamaan Stephen Hawking sempat meninggalkan hasil pemikiran terakhirnya mengenai alam semesta, yang dianggapnya tidak memiliki batas.

Sebuah hasil studi berjudul A Smooth Exit from Eternal Inflation bisa jadi merupakan peninggalan paling penting dari sang fisikawan sekaligus kosmolog yang meninggal di usia 76 tahun pada 14 Maret lalu itu.

Karya tulis ini menuangkan ide besar Hawking terhadap eksistensi dari multiverse (multi alam semesta).

Pada dasarnya, ide utama dalam hasil studi itu adalah luar angkasa yang dikenal saat ini hanyalah salah satu dari banyaknya alam semesta di luar sana. Jika ditelisik lebih dalam, karya tulis ini mengangkat isu yang telah mengganggu Hawking sejak 1883.

Dalam hasil pemikirannya bersama James Burkett Hartle, profesor fisika di University of California Santa Barbara, mereka berpendapat bahwa alam semesta tidak memiliki batas.


Teori itu pun menjelaskan bagaimana munculnya alam semesta lewat peristiwa Big Bang. Lalu, disebutkan juga proses bernama inflasi, yaitu saat jagat raya yang seketika meluas dari titik sangat kecil hingga menjadi sebuah alam semesta seperti saat ini.

Satu hal yang mengganggu Hawking dari teori tersebut adalah munculnya prediksi bahwa Big Bang yang terjadi hanya salah satu dari sejumlah ledakan besar lain. Masing-masing ledakan itu pun menghasilkan alam semestanya sendiri-sendiri.

Misteri itu pun berusaha dipecahkan Hawking dalam studi tersebut. Ia menjelaskan perhitungan matematika yang dibutuhkan dalam melaksanakan penyelidikan di luar angkasa dalam mencari bukti terhadap keberadaan multiverse. Jika bukti tersebut dapat ditemukan saat ia masih hidup, bisa jadi ia dapat memenangkan hadiah Nobel yang sudah lama didambakannya.

"Ia sudah sering dinominasikan untuk penghargaan Nobel dan seharusnya bisa memenangkannya. Sekarang ia sudah tidak bisa lagi mendapatkannya," ujar Thomas Hertog, profesor fisika teori dari KU Leuven University, Belgia. Hertog juga turut menjadi co-author untuk A Smooth Exit from Eternal Inflation.



Paham multiverse sendiri dianggap sebagai sebuah paradoks yang secara matematis mustahil untuk menguji kebenarannya menggunakan eksperimen. Hal itu yang ingin diubah oleh Hawking dan Hertog. "Kami ingin mengubah ide multiverse menjadi sebuah pekerjaan pekerjaan ilmiah yang dapat diuji," kata Hertog, seperti detikINET kutip dari The Times, Senin (19/3/2018).

Dalam menyelesaikan karya tulis yang kini sedang ditinjau tersebut, Hertog sempat bertemu dengan Hawking untuk mendapatkan persetujuannya dalam mempublikasikan hasil studi itu. (rns/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed