Selasa, 27 Feb 2018 12:31 WIB

Alam Semesta Melebar Lebih Cepat dari Perkiraan

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Galaksi. Foto: NASA Galaksi. Foto: NASA
Jakarta - Temuan terbaru menunjukkan bahwa alam semesta ternyata meluas lebih cepat dari perkiraan, dan hukum fisika butuh ditulis ulang untuk memahaminya.

Sejumlah peneliti yang menggunakan Hubble Space Telescope dalam membuat pengukuran terhadap tingkat perluasan alam semesta, secara akurat menemukan bahwa studi terbaru yang mereka lakukan ternyata tidak sesuai dengan prediksi sebelumnya.

Space Telescope Science Institute (STScI), sebuah organisasi antariksa yang beberapa kali memimpin penelitian menggunakan Hubble Space Telescope dan James Webb Space Telescope, menjadi pihak yang bertanggung jawab dalam penelitian tersebut.

"Kami dan orang-orang yang terlibat tengah bergumul dalam memahami perbedaan yang muncul ini," ujar Adam Riess, pemimpin studi tersebut, seperti detikINET kutip dari Space, Selasa (27/2/2018).



Riess, yang sempat meraih penghargaan Nobel bidang Fisika pada 2011, kini menjabat sebagai ahli astronomi di STScI dan profesor di John Hopkins University, Baltimore, Amerika Serikat.

Dalam mengukur luasnya alam semesta, Hubble Space Telescope menghitung jarak antar galaksi dengan memeriksa sebuah tipe bintang bernama Cepheid yang memiliki tingkat kecerahan yang beragam.

Bintang-bintang itu memiliki siklus terang dan redup yang dapat diprediksi, atau disebut sebagai variabel Cepheid, sehingga memungkinkan para peneliti untuk mengukur jarah antar objek tersebut.

Data tersebut kemudian digunakan untuk menakar seberapa besar tingkat perluasan oleh alam semesta, yang disebut juga sebagai konstanta Hubble.

Penemuan terbaru ini menunjukkan bahwa delapan variabel Cepheid di dalam galaksi Bima Sakti berada lebih jauh hingga sepuluh kali lipat dibanding dengan analisis-analisis terhadap bintang tersebut sebelumnya.

Mereka pun telah mengembangkan sebuah teknik pemindaian yang memungkinkan Hubble Space Telescope untuk mengukur posisi bintang secara periodik, yaitu 1.000 kali setiap menitnya.



Cara ini ianggap dapat meningkatkan akurasi dalam menakar tingkat kecerahan dan jarak sebenarnya dari bintang-bintang tersebut, mengingat cukup sulit melakukan pengukuran terhadap Cepheid karena letaknya cukup jauh, mencapai 6.000 hingga 12.000 tahun cahaya dari Bumi.

Para peneliti pun membandingkan penemuan mereka dengan data dari satelit Planck milik European Space Agency (ESA). Satelit yang menjalani misi berdurasi empat tahun ini memetakan radiasi yang masih tersisa hasil dari fenomena Big Bang.

Data tersebut memperlihatkan bahwa konstanta Hubble berada di kisaran 67 hingga 69 kilometer per detik per megaparsec, dengan satu megaparsec (Mpc) kurang lebih setara dengan 3,2 juta tahun cahaya.

Sedangkan temuan terbaru ini memperkirakan bahwa alam semesta mengalami perluasan pada 73 kilometer per detik per megaparsec, yang berarti memunculkan teori bahwa galaksi bergerak lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

"Hasil keduanya telah diuji coba dalam berbagai cara untuk menghindari kesalahan yang dapat terjadi. Hal tersebut pun menunjukkan bahwa temuan ini bukan sebuah kekeliruan, melainkan keistimewaan dari alam semesta itu sendiri," pungkas Riess. (fyk/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed