Rabu, 21 Feb 2018 17:13 WIB

Para Penjelajah Waktu Versi Film Fiksi Ilmiah

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Film Interstellar. Foto: istimewa Film Interstellar. Foto: istimewa
Jakarta - Walaupun penjelajahan waktu masih belum bisa dibuktikan kebenarannya, namun sejatinya manusia sudah memiliki visi terkait dengan bagaimana fenomena tersebut dapat terjadi.

Kemunculan dua orang baru-baru ini yang mengaku bahwa dirinya datang dari masa depan kembali memunculkan pertanyaan lawas, bisakah perjalanan melintasi waktu dilakukan?



Terlepas dari benar tidaknya pernyataan dari dua orang tersebut, manusia sudah sejak lama 'mengidamkan' terjadinya perjalanan waktu, yang salah satunya dituangkan melalui film.

Implementasinya pun tidak asal-asalan, karena turut mempertimbangkan teori relativitas ciptaan Albert Einstein, yang terbagi dalam relativitas umum (mengenai gravitasi) dan khusus (mengenai ruang dan waktu).

Dalam relativitas umum, saat objek berada di tempat dengan gaya gravitasi yang sangat besar seperti di dekat lubang hitam, maka waktu yang dilewatinya akan bergerak lebih lambat, atau disebut juga dengan dilatasi waktu.

Fenomena tersebut juga dapat terjadi ketika sebuah bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, mendekati kecepatan maksimum 300.000 kilometer per detik dalam ruang waktu, sebagaimana disebutkan dalam teori relativitas khusus.



Hal ini yang terjadi dalam film Interstellar garapan Christopher Nolan, saat astronot bernama Cooper yang diperankan oleh Matthew McConaughey melihat sejumlah kerabatnya di Bumi menua lebih cepat dari dirinya selama ia mengarungi luar angkasa.

Selain itu, film yang dirilis pada 2014 lalu tersebut juga memperlihatkan bahwa objek dapat melakukan perjalanan waktu dengan bergerak ke dimensi yang lebih tinggi.

Sekali lagi, Cooper yang menjadi 'objek' dalam teori tersebut. Pada salah satu adegan di Interstellar, ia terlihat masuk ke dalam sebuah tesseract, yang merupakan kubus empat dimensi.

Di dalam ruang waktu tersebut, ia dapat bergerak ke satu arah sembari melihat masa lalu dan berpindah ke sisi lain seraya menengok masa depan. Untuk dapat berinteraksi dengan kejadian di masa lalu, ia hanya dapat menggunakan gelombang gravitasi.

Konsep serupa juga dihadirkan oleh film A Wrinkle In Time, sebuah film arahan Ava DuVernay yang baru akan rilis pada 9 Maret mendatang di Amerika Serikat.

Kemudian, konsep perjalanan waktu yang terkenal lainnya muncul dari serial televisi legendaris berjudul Doctor Who.

Dalam serial tersebut, sebuah alat bernama TARDIS (Time And Relative Dimension In Space) yang memanfaatkan pusaran dimensi sebagai portal untuk menjelajahi waktu, dengan objek yang berada di dalamnya akan merasa bahwa waktu berjalan secara normal.

Nantinya, alat tersebut akan terlihat menghilang dari tempat asalnya berada, dan muncul secara tiba-tiba di tempat tujuannya, seperti detikINET kutip dari Space, Rabu (21/2/2018).



Teori ini juga diadaptasi oleh film LEGO DC Comics Super Heroes - Justice League: Cosmic Clash, yang memperlihatkan karakter The Flash yang berlari kencang menggunakan treadmill kosmik sehingga dapat pergi menjelajahi waktu.

Beberapa teori lain yang memunculkan cara objek dalam melakukan time travel adalah lompatan waktu di film Back To The Future, dan bergerak melebihi kecepatan cahaya seperti pada Superman: The Movie.

Meskipun perjalanan waktu masih belum bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya, namun bukan tidak mungkin dengan segala teknologi di masa depan konsep-konsep ini dapat diwujudkan menjadi kenyataan. (fyk/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed