Memilih Bundaran HI sebagai tempat observasi peneropongan benda langit memang terdengar mustahil. Pasalnya, sebagai salah satu pusat perhatian kota, Bundaran HI dilimpahi banyak cahaya (polusi cahaya) yang tentunya tidak memungkinkan melakukan pengamatan langit.
Nah, memanfaatkan momentum Earth Hour dimana setiap warga diminta mematikan lampu, Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) mengajak pecinta astronomi yang tinggal di sekitar Bundaran HI melakukan observasi langit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
'Langit gelap' yang dimaksud Rayhan disini adalah kondisi langit yang memungkinkan untuk melakukan peneropongan langit. Seperti diketahui, penerangan di gedung-gedung besar, terutama yang diarahkan ke langit, berkontribusi menyumbang polusi cahaya yang menyulitkan observasi langit.
Itulah sebabnya, kegiatan pengamatan benda langit selalu dilakukan di wilayah terpencil atau yang belum terlalu banyak pencahayaan. Kegiatan HAAJ ini diharapkan dapat membangun kesadaran warga akan kondisi langit (dark sky awareness).
Namun dikatakan Rayhan, seandainya terjadi hujan, maka apa boleh buat, peneropongan langit ditiadakan. Meski begitu, tim HAAJ yang bekerjasama dengan World Wide Fund for Nature (WWF) selaku penggagas Earth Hour, tetap akan mengedukasi masyarakat mengenai pencahayaan dan pentingnya hemat energi untuk menyelamatkan bumi.
"Siapa saja boleh ikut, ini terbuka untuk umum. Tapi syaratnya, sebelum berangkat harus matikan lampu di rumah dan disarankan menggunakan kendaraan umum. Ini agar tetap sejalan dengan semangat misi penyelamatan bumi dan hemat energi," kata Rayhan.
Dalam kegiatan ini, HAAJ menyediakan satu unit teropong lensa (refraktor) untuk melakukan pengamatan. Sekitar 30 orang dari komunitas HAAJ akan turut serta melakukan pengamatan langit.
Tertarik mengikutinya? Silakan datang ke sana, pengamatan dimulai pukul 20.30 - 21.30 WIB. Jangan lupa, terlebih dahulu matikan lampu yang tidak terpakai. Selamat menikmati keindahan langit!
(rns/rns)