Pasukan TI Hajar Kopassus
- detikInet
Jakarta -
Senjata api berkaliber, bom, gas air mata, lari berkilo-kilo meter atau 'berkeliaran' di hutan sudah menjadi 'makanan' sehari-hari pasukan anti-teror Batalyon Sat-81. Sebagai prajurit yang siap mati, mereka memang dididik keras di lapangan untuk menghadapi dan mengantisipasi kejadian yang sangat berbahaya.Di lain sisi, komputer menjadi 'barang langka' yang nyaris tak pernah mereka gauli lantaran saban hari berada di alam bebas. Maraknya teroris cyber yang notabene mengandalkan teknologi untuk memindai sasarannya, mau tak mau menuntut pasukan berani mati tersebut harus bisa memanfaatkan teknologi.Adalah bagian dari tanggung jawab kita untuk mentransfer ilmu tersebut kepada mereka. Tak mau tinggal diam, detikINET bersama Kompas dan beberapa relawan TI 'menghajar' pasukan elit anti-teror tersebut. Sebanyak 43 orang pasukan berseragam hijau loreng lengkap dengan senjatanya memadati salah satu ruangan di area Kopassus, yang diberi nama Halilintar.Diawali dengan perkenalan hardware komputer, para prajurit tampak antusias memperhatikan semua penjelasan yang disampaikan oleh tim pengajar secara bergantian. Mulai dari cara menghidupkan komputer, men-shut down, seluk beluk komputer dan sistem operasi. Tim pengajar sendiri berasal dari komunitas milis detikINET, ICT Watch, dan beberapa guru TIK. Tak ketinggalan Michael Sunggiardi, salah satu praktisi TI, ikut ambil bagian sebagai relawan dalam pelatihan ini dengan menyediakan sarana laptop sebanyak 45 unit untuk para peserta.SersanSuasana pelatihan berjalan sangat sersan alias serius tapi santai. Michael menjelaskan secara detil komponen yang ada di laptop. Satu demi satu penjelasan dari tim pengajar dicatat secara rapi dalam buku peserta. Bahkan ada yang sengaja menggambar letak posisi tombol keyboard di bukunya beserta dengan fungsinya.Terbiasa memegang peralatan keras sepertinya senjata rupanya ikut terbawa dalam pelatihan. Beberapa peserta tampak memencet tombol keyboard dengan keras layaknya mengetik dengan mesin tik. Mayoritas peserta juga aktif bertanya dan sesekali minta agar materi diulang.Diakui mereka (pasukan anti-teror -red), belajar komputer cukup membingungkan lantaran mereka memang jarang berinteraksi dengan perangkat tersebut. "Saya mendingan disuruh lari 10 kilometer daripada ngutak-ngatik komputer," canda salah satu peserta. Namun demikian, semangat untuk bisa pintar menggunakan komputer tetap membara. "Ngantuk mbak saya, gak biasa berada di ruangan ber-AC. Biasanya di lapangan terus," celetuk salah satu peserta kepada detikINET. Namun demikian, semangat untuk belajar komputer tetap membara.Perut mulai keroncongan, jelang pukul 12.00 WIB pelatihan di-stop sejenak untuk beristirahat sembari menikmati hidangan makan siang yang sudah disiapkan pihak Kopassus. Suasana akrab menyelimuti acara makan siang ala Kopassus yang duduk di lantai sambil bercanda tawa. Sang Wakil Komandan Batalyon Sat-81 Gultor, Mayor Hendy Antariksa, pun ikut membaur dengan peserta dan pengajar.Lepas istirahat, peserta kembali berkumpul di ruang Halilintar. Tak ada istilah jam karet, tanpa diperintah, para peserta sudah kembali berkumpul di ruang Halilintar tepat pada waktunya. Pelatihan dilanjutkan dengan pengenalan dan praktek aplikasi perkantoran termasuk pengolah kata (Word procesor), yang disampaikan oleh tim pengajar secara bergantian antara lain Nicky, Rizal dan Acep dibantu dengan tim relawan lain yang mendampingi peserta antara lain Rahmadi, Sulaiman, Dwi Susanti, Wina, Yuyun. Beberapa latihan terkait aplikasi perkantoran juga diberikan agar lebih familiar memakai komputer dan aplikasinya.Masih dihiasi semangat tak kenal lelah, pelatihan akhirnya ditutup pada pukul 4 sore untuk selanjutnya dilanjutkan pada hari ini dan besok. Pelatihan ini sendiri diadakan selama tiga hari di Kopassus, mulai pukul 09.00 - 16.00 WIB.
(dwn/dbu)