Kamis, 06 Nov 2014 13:12 WIB

Endang Rachmawati, Srikandi Teknologi Contact Center

- detikInet
Endang Rachmawati Endang Rachmawati
Jakarta -

Saat Endang Rachmawati masih kanak-kanak, mungkin tak banyak anak perempuan seusianya yang bercita-cita menjadi insinyur dan bertekad mewujudkannya. Kini, impiannya terkabul. Ia pun menjadi srikandi di ranah teknologi contact center.

Menilik perjalanan karir wanita berkerudung ini cukup menarik. Endang punya pengalaman lebih dari 15 tahun di industri telekomunikasi. Dia meniti karir sebagai System Engineer di Bay Networks, perusahaan solusi jaringan komunikasi.

Pada 1998, Bay Networks diakuisisi Nortel. Kala itu, Endang diserahi tugas sebagai Sales Director. Dengan latar belakang seorang insinyur, wanita yang menghabiskan masa kecilnya di Bandung ini harus menyesuaikan diri dan belajar keras soal penjualan.

"Drastic change. Tapi key-nya adalah understand your customer or your team and try to identify how to get things going and execute," kata Endang.

Tak disangkanya, dunia sales memberikan banyak pengalaman dan pengetahuan baru. Baginya, memahami sales membuatnya bisa menggali keinginan customer secara langsung.

"Banyak pakai knowledge technology. Sebagian ilmu engineer banyak bantu, dan intuisi untuk mengerti customer business process atau challenges dan align dengan technology solutioning," paparnya.

Kegemarannya terhadap Matematika sejak di bangku sekolah dasar, secara tidak langsung ikut mendorong Endang 'hobi' dengan pendidikan berbau engineering. Lulus dari S1 University of Lincoln, Nebraska kemudian dilanjut dengan S2 University of Kansas, Lawrence, membuatnya jago di bidang teknik elektro.

Ketika Nortel diakuisisi Avaya pada 2009, semula perusahaan tersebut dikelola oleh tim dari Singapura. Memutuskan untuk memiliki kantor di Tanah Air, Endang pun diminta menjadi Country Manager Avaya Indonesia.

Dunia contact center

Kini, lima tahun sudah Endang mengawal Avaya Indonesia. Sejumlah penghargaan pun diraih ibu dua orang anak ini selama mengabdi. Dia mengaku banyak belajar dari Avaya, mengenai bagaimana seseorang bertahan di bisnis dan tentunya lebih dalam mengulik teknologi komunikasi.

"Passion saya saat ini, I understand the technology about communication and contact center. Sekarang ini passion saya bagaimana mentranslatekan teknologi ini dengan bisnis requirementnya customer," ujarnya.

Dikatakannya, hal menarik adalah ketika dia dan timnya bisa membuat teknologi khususnya untuk contact center, dan bisa menjawab permasalahan customer untuk tahu seberapa efektif promosi atau marketing mereka.

"The other thing adalah bagaimana teknologi bisa menjawab, bisa membuat lebih productive. Contohnya sekarang mereka contact meetingnya harus face to face . Dengan teknologi bisa buat mereka bisa conduct meeting everywhere anytime," ujarnya bersemangat.

Potensi contact center di Kabinet Jokowi

Pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi semakin memicu semangat Endang. Menurutnya teknologi contact center di Indonesia akan semakin potensial untuk merambah ke banyak bidang.

"Apalagi sekarang ini dengan kabinet Jokowi yang suka blusukan, mereka seperti mendengarkan langsung the real customer. Itu bakalan bisa kita extend bagaimana merespons customer request atau rakyat luas," kata Endang.

Sebagai perusahaan solusi komunikasi, Avaya pun sudah mengantisipasi hal itu. Dikatakan Endang, pihaknya saat ini sedang gencar mendekati jajaran pemerintahan untuk bisa ambil bagian dalam e-blusukan pemerintahan Presiden Jokowi.

Selain layanan publik pemerintahan, strategi Avaya saat ini adalah fokus menggarap peluang solusi contact center untuk mid market untuk pendidikan, small banking seperti bank perkreditan rakyat dan transportasi.

"Strategi paling kena adalah kita memberikan end to end solution. Contohnya kalau untuk education kita bundling dengan aplikasi yang related ke education. Kalau hospitality kita bundling dengan hospitality solution. Jadi nyambung dan one stop solution," tutupnya.

(rns/rou)