Kepincutnya Suu Kyi memiliki akun Twitter memang sudah pernah diutarakan bulan lalu. Suu Kyi kini diizinkan oleh rezim militer untuk bisa terhubung dengan dunia luar secara online setelah November silam dibebaskan dari status tahanan rumah yang dihabiskannya selama 15 tahun dalam 21 tahun terakhir.
Dilansir AFP dan dikutip detikINET, Senin (21/2/2011), dalam sebuah wawancara telepon dengan surat kabar Globe Kanada dan Mail, Suu Kyi mengatakan ingin bertukar pikiran dengan komunitas online di seluruh dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun menurutnya, harga yang dibayarkannya tidak sebanding dengan fasilitas internet yang didapat, mengingat aksesnya sangat lambat terutama untuk ke jejaring sosial.
"Mungkin perlu meningkatkan apa namanya itu? Megabyte? Ketika koneksinya lebih kuat dan lebih baik, sesegera mungkin saya ingin memiliki akun Twitter dan Facebook," kata Suu Kyi
Seperti diketahui, pemanfaatan Facebook dan Twitter untuk memobilisasi revolusi di Tunisia dan Mesir telah mengilhami negara lain untuk melakukan hal serupa. Semangat revolusi di kedua negara Arab itu kini dilaporkan merambah ke wilayah lain, termasuk salah satunya di China. (rns/ash)