Pemimpin sosialis ini meminta masyarakat Venezuela untuk mengirimkan Tweet yang berisi identifikasi para pedagang mata uang asing ilegal. Chavez menggambarkan mereka sebagai pencuri yang harus dihukum karena telah menspekulasi mata uang. Ia juga menyalahkan mereka atas inflasi yang meningkat tajam.
"Akun Twitter saya terbuka bagi Anda untuk mengecam mereka," kata Chavez dalam siaran radio dan di acara televisi setempat. "Kita akan memulai serangan. Beberapa serangan memang sudah kita lakukan dan itu berkat pengaduan dari masayarakat," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tindakan keras dan ancaman yang diberikan kepada para pedagang rupanya malah membuat mata uang Venezuela semakin turun. Para pengamat ekonomi justru mengkhawatirkan tindakan tersebut hanya akan menjadi bumerang.
"Sistem ini keras," ujar Asdrubal Oliveros, seorang analis di Caracas Ecoanalitica. "Sayangnya, skema baru ini akan berakhir karena inflasi yang meningkat membuat produk berkurang dan menciptakan distorsi yang lebih di pasar mata uang," tambahnya. Oliveros percaya kejadian ini disebabkan oleh ketidakpastian pemerintah Venezuela mengendalikan perdagangan dolar AS di pasar gelap maupun di pasar obligasi yang sebelumnya didominasi oleh perusahaan pialang.
Chavez pernah berujar akan menangkap para pedagang mata uang asing ilegal sendirian. Ia akan menyamar sebagai calon pembeli di situs internet kemudian menangkap para penjual. "Aku akan ber-internet dan membeli dolar. Tapi itu hanya untuk menangkap mereka," katanya.
Seperti dikutip detikINET dari Yahoo News, Senin (17/5/2010). Ia mendesak pemerintah untuk bersikap tegas dengan situs yang melanggar undang-undang. Sampai berita ini dirilis, sudah ada tiga situs pelayanan jual-beli mata uang asing yang diblokir.
Pekan lalu, pemerintah Venezuela telah menyetujui rancangan undang-undang mengenai pengetatan mata uang asing dan memberikan Bank Sentral eksklusif kontrol atas perdagangan obligasi pemerintah. "Ini untuk memerangi spekulasi dolar," tutup Chavez. (ash/ash)