Jakarta -
Acara BlackBerry Live 2013 menjadi panggung perpisahan yang cukup kontroversial bagi Thorsten Heins sebelum dipaksa mundur dari jabatan CEO BlackBerry. Simak kiprahnya berikut ini.
Dalam acara yang berlangsung pertengahan tahun ini, Thorsten Heins begitu percaya diri BlackBerry dengan platform OS terbarunya, BlackBerry 10, mampu bersaing melawan gempuran iOS dan Android.
Saking pedenya, Thorsten yang menggantikan duet CEO pendiri BlackBerry, Mike Lazaridis dan Jim Balsillie, saat itu membuat pengumuman yang tak disangka-sangka dan cukup kontroversial, melepas fitur andalan BlackBerry Messenger (BBM) ke iOS dan Android.
Β Β Β Β "Dengan penuh percaya diri kami memutuskan bahwa ini saatnya BBM menjadi platform messaging yang berdiri sendiri," demikian kata Thorsten, dalam acara yang turut dihadiri detikINET di Orlando, Florida, Amerika Serikat.
Keputusan itu diakui sebagai perjudian besar. Di satu sisi BlackBerry jadi kehilangan daya tariknya, di sisi lain pengguna BBM makin banyak. Total, BBM yang sudah punya 60 juta pengguna, jika digabung bersama iOS dan Android jadi 80 juta.
Di masa depan, kata Thorsten saat itu, BlackBerry tak cuma jualan handset saja. Tapi juga akan mulai cari duit dari layanan BBM Channel melalui strategi BBM lintas platform.
Meski telah melepas BBM ke iOS dan Android, Thorsten saat itu masih pede handsetnya tetap akan laku. Hal itu coba dibuktikan dengan meluncurkan BlackBerry Q5, handset Qwerty versi ekonomis untuk platform BlackBerry 10.
BlackBerry boleh saja berencana banyak, namun pasar juga yang menentukan. BlackBerry 10 pun dianggap gagal karena tak mampu bersaing di pasaran. Rencana untuk mengkudeta pasar iPhone dan Android pun gagal total.
Alhasil, keuangan perusahaan pun morat-marit. Kerugian yang dicatatkan perusahaan asal Kanada itu pun membengkak jadi USD 965 juta atau sekitar Rp 10 triliun pada kuartal kedua 2013. Seretnya penjualan BlackBerry Z10 dituding sebagai penyebabnya.
Tak lama kemudian, Thorsten bersama tim direksi dan komisaris membentuk tim penyelamat BlackBerry, dengan salah satu opsi menjual perusahaan yang awalnya diberi nama Research In Motion (RIM).
Sempat mau dibeli Fairfax Financial Holdings, namun hingga tenggat waktu yang ditentukan rencana itu tak kunjung terlaksana. Tak ada bank yang mau menjamin pinjaman uang Fairfax sebanyak USD 4,7 miliar atau sekitar Rp 54 triliun untuk membeli BlackBerry.
Buntut dari kegagalan penjualan ini, Thorsten pun dipecat. Ia digantikan oleh John Chen, mantan CEO Sybase. Pengangkatan Chen pun ikut dipertanyakan karena anak imigran asal Hong Kong ini tak punya pengalaman untuk berbisnis perangkat mobile.
Thorsten yang didepak dari BlackBerry pun tak pergi dengan tangan hampa. Sebagai kompensasi, pria asal Jerman ini mendapat uang pesangon USD 22 juta atau sekitar Rp 242 miliar. BlackBerry yang gagal dijual pun masih dapat suntikan dana USD 1 miliar dari Fairfax.