Aplikasi Canggih Bisa Deteksi COVID-19 dari Suara Batuk

Aplikasi Canggih Bisa Deteksi COVID-19 dari Suara Batuk

Fitraya Ramadhanny - detikInet
Senin, 25 Apr 2022 07:35 WIB
COVID-19 Pandemic Coronavirus, Asian woman wearing a mask, have a symptoms coughing and fever
Start up di Australia mengembangkan aplikasi yang bisa mendeteksi COVID-19 dari suara batuk saja (Foto: Getty Images/iStockphoto/ronnachaipark)
Jakarta -

Aplikasi kini semakin canggih untuk mendeteksi COVID-19 hanya lewat suara batuk. Prizer pun berminat membelinya.

Dilansir dari News.com Australia, Minggu (24/4/2022) start up dari Brisbane, Australia, bernama ResApp membuat aplikasi yang bisa mendeteksi COVID-19 dengan mendengarkan suara batuk. Perusahaan farmasi Pfizer pun berminat membelinya.

ResApp mengklaim berhasil mengembangkan algoritma pada aplikasi mereka yang melampaui sensitivitas tes antigen yang dilakukan di dunia nyata. ResApp mengatakan sedang menyiapkan perizinan untuk produk mereka.

Algoritma mereka berhasil dengan benar mendeteksi COVID-19 sebesar 92 persen dari orang yang terinfeksi. Uji coba dilakukan terhadap 741 pasien di India dan Amerika Serikat.

Kemampuan aplikasi ini didasari hasil riset bahwa suara orang batuk mengandung informasi yang bisa mengidentifikasi penyebab batuknya. ResApp dalam situs resminya mengatakan suara ini lebih baik dari yang biasa dokter dengar lewat stetoskop.

Meski begitu, CEO ResApp Tony Keating mengatakan aplikasi mereka tetap tidak menggantikan tes Antigen dan PCR. Aplikasi ini untuk membantu seseorang untuk menjalani tes Antigen atau PCR.

"Aplikasi ini dirancang jika hasilnya 'No', Anda tidak usah ambil tes antigen atau PCR. Tapi kalau hasilnya 'Yes', Anda ambil tes Antigen atau PCR," kata Keating.

Pfizer pun kesengsem dengan aplikasi ini. Mereka sepakat untuk membeli aplikasi ini AU$ 100 juta (Rp 1,05 triliun). Nilai sahamnya pun langsung naik 22 persen.

"Kami senang dengan prospek dari akuisisi oleh Pfizer, perusahaan biofarmasi utama yang berbagi visi kami bahwa teknologi bisa membantu mengubah layanan kesehatan dan memperbaiki kehidupan pasien," kata dia.

Pfizer dan ResApp juga mengatakan akan melakukan kesepakatan penelitian dan pengembangan mengenai COVID-19. ResApp mengatakan tingkat akurasi mereka sebesar 92% dari pasien terinfeksi, diklaim sudah lebih tinggi dari tes antigen.

Diagnosis COVID-19 lewat aplikasi dinilai memang tidak mengurangi biaya untuk uji kimia. Namun, pasien akan punya pilihan baru untuk telemedicine dan akses ke layanan pengobatan.

ResApp didirikan tahun 2014 dari riset Associate Professor University of Queensland bernama Udantha Abeyratne. Riset ini didanai oleh Bill dan Melinda Gates Foundation.



Simak Video "Ada yang Buat WHO Meragu soal Sirkulasi Covid-19 di Dunia Saat Ini"
[Gambas:Video 20detik]
(fay/afr)