Prof Dr Seto Mulyadi (Kak Seto), Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) menuturkan LPAI telah membentuk SPARTA. Hal ini selaras dengan misi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dalam upaya melindungi anak-anak dari adiksi internet.
Dalam acara Konferensi Pers Update Implementasi PP Tunas, Rabu (7/10/2026), Seto mengapresiasi langkah berani Komdigi dalam mewujudkan PP Tunas. Seto mengatakan PP Tunas sudah selayaknya didukung oleh seluruh masyarakat.
"Selain itu juga melalui pendidikan, melalui jalur sekolah, para guru menyiapkan para murid untuk cerdas menggunakan teknologi dengan digital," ujarnya di Kantor Komdigi, Jakarta Pusat.
Untuk masyarakat, Seto mengajak kita semua membentuk idola-idola Indonesia yang layak anak pada 2030. Artinya, semua perlindungan anak dilakukan dengan keseriusan dari segala lini dan aspek di masyarakat.
"Artinya RT, RW dan keluarga yang layak anak. Untuk itu, LPAI juga mendukung pemberdayaan masyarakat dengan membentuk SPARTA yaitu Seksi Perlindungan Anak di Tingkat Rukun Tetangga," terangnya.
Kata Seto, RT adalah keluarga yang sangat dekat. Dia mengimbau agar masyarakat tidak terlalu sibuk dengan dunia digital saja hingga tidak saling berkomunikasi. Padahal, namanya saja rukun tetangga, dia mengharapkan warganya pun harus benar-benar hidup rukun.
"Tapi kadang saling tidak rukun, sering tidak peduli, bahkan tetangga sebelah meninggal ada yang tidak tahu. Tahunya melalui dunia digital dan dengan SPARTA tadi, ini memberdayakan masyarakat untuk betul-betul melindungi anak-anak dengan saling berdialog juga berkumpul bersama," ungkapnya.
SPARTA diharapkan mampu mengajak anak-anak di lingkungan terkecil untuk kembali bermain permainan-permainan tradisional seperti gobak sodor dan engrang. Jadi, ada saatnya anak-anak saling bersosialisasi, tapi ada pula saatnya masuk ke dunia digital.
Sebab, tidak selamanya internet membawa keburukan bagi anak, kok. Seto memberi contoh anak yang berhasil memanfaatkan dunia digital untuk membangun skill mereka.
"Ada satu anak, padahal itu di Jakarta, tidak bisa Bahasa Jawa tapi tahu-tahu pintar dalang. Begitu ditanya siapa gurunya, Mbah YouTube ternyata. Akhirnya dia menjadi dalang terkenal, padahal masih umur 12 tahun," kisahnya.
"Sering juga dipanggil di sekolah-sekolah internasional dan sebagainya karena cinta pada budaya dan adatnya sendiri. Jadi, sekali lagi, semua untuk kesejahteraan dan perlindungan anak," tutupnya.
Simak Video "GoTo, Rumah Talenta Digital yang Siap Berkontribusi untuk Kemajuan Negeri"
(ask/fay)