Awalnya alasan penggunaan .id itu dikemukakan Dirjen Aplikasi dan Telematika, Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo), Cahyana Ahmadjayadi dalam forum diskusi di ajang Indonesia ICT Awards di Jakarta Convention Center, Selasa 20 November 2007.
Ketika itu Cahyana berpendapat, penggunaan domain .com menyebabkan besarnya akses bandwidth internet internasional. Cahyana pun berharap pengelola situs mau beralih ke domain dalam negeri yang berakhiran .id, seperti .co.id atau .web.id.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lolly mengatakan banyaknya pengguna .com artinya penggunaan bandwidth internasional makin naik. "Ini karena server-nya ada di luar. Atau bisa saja mirror dari dalam, tapi dia kan ada mirroring dari sana. Jadi untuk mengakses server itu, kita harus memakai akses ke luar, padahal isinya bisa saja orang indonesia. Jadi harus ke luar negeri untuk konten lokal," ia memaparkan.
Menurut Lolly, dengan menggunakan .id penggunaan bandwidth internasional bisa dihemat. Dengan demikian, ia melanjutkan, devisa tidak akan lari ke luar negeri.
Sampai saat ini pengguna .id menurut Lolly masih sedikit, yaitu sekitar 33.000 domain. "Bayangkan jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang 200 juta-an. Paling tidak 6 juta itu sudah bagus," tukasnya.
Nama domain, lanjut Lolly, merupakan salah satu indikator meningkatkan citra Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Indonesia di mata internasional. Selain indikator lain seperti penetrasi internet dan komputer atau pendidikan TIK. (wsh/wsh)