Meski 6G masih jauh untuk diterapkan, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan spektrum frekuensi yang berpotensi menjadi rumah bagi layanan 6G di Indonesia, salah satunya ada satu pita frekuensi yang dijuluki 'si kembang desa' karena menjadi favorit pelaku industri telekomunikasi.
Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standarisasi Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi, Adis Alifiawan, mengatakan julukan tersebut disematkan pada pita frekuensi 7 GHz. Alasannya, frekuensi itu menjadi yang paling banyak digunakan untuk jaringan microwave link atau backhaul yang menghubungkan satu menara telekomunikasi dengan menara lainnya.
"Di database kami, pita 7 GHz itu adalah si kembang desa. Yang paling disukai oleh para pengguna microwave link itu adalah 7 GHz. Penggunaannya lima kali lipat lebih banyak dibandingkan 6 GHz," kata Adis di Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Popularitas tersebut justru membuat pemerintah menghadapi dilema ketika mulai membahas spektrum untuk layanan 6G di masa depan. Jika nantinya 7 GHz dipilih sebagai spektrum 6G, maka Komdigi harus menentukan apakah frekuensi itu tetap dipertahankan untuk kebutuhan backhaul atau dialihkan menjadi jaringan akses seluler generasi berikutnya.
"Kalau suatu hari kita memutuskan 6G ada di 7 GHz, berarti kita harus memilih, mau dipakai untuk backhaul sebagai microwave link atau dipakai untuk akses 6G. Kita tidak bisa mengambil dua-duanya," ucapnya.
Adis menuturkan seluruh negara tantangan tersebut muncul karena seluruh kandidat spektrum yang sedang dibahas dalam agenda World Radiocommunication Conference (WRC) 2027 sebenarnya sudah memiliki pengguna.
Empat pita frekuensi yang masuk dalam pembahasan internasional meliputi 4 GHz, upper 6 GHz, 7 GHz, dan 15 GHz. Tidak ada satu pun yang benar-benar kosong sehingga setiap opsi memiliki konsekuensi tersendiri.
"Empat frekuensi ini semuanya sudah ada yang memakai. Ada yang dipakai microwave link, ada yang dipakai satelit, ada yang bertetangga dengan penerbangan. Jadi situasinya memang tidak mudah," ucapnya.
Selain 7 GHz, pita 4 GHz dan 15 GHz juga memiliki tantangan berbeda. Kedua spektrum tersebut berada berdekatan dengan layanan penerbangan sehingga pengaturannya harus dilakukan secara sangat hati-hati untuk menghindari potensi interferensi.
Khusus pita 15 GHz, Adis menilai implementasi 6G juga berpotensi membutuhkan jaringan small cell dalam jumlah besar. Konsekuensinya, operator harus membangun lebih banyak base transceiver station (BTS), yang berarti investasi jaringan akan jauh lebih tinggi.
"Kalau bicara 15 GHz, pasti kita bicara small cell. Artinya investasinya harus lebih besar karena BTS akan lebih banyak. Saya yakin ini juga menjadi pertimbangan dari sisi industri," kata Adis.
Sementara itu, untuk pita upper 6 GHz, Komdigi belum menentukan arah kebijakannya. Berdasarkan data yang dimiliki Komdigi dari Policy Tracker 2026 dan GSMA, terdapat sekitar 12 negara yang telah menetapkan spektrum tersebut untuk layanan Wi-Fi. Di sisi lain, beberapa negara memilih mengalokasikannya untuk layanan seluler atau International Mobile Telecommunications (IMT) yang menjadi fondasi teknologi 5G dan 6G.
"Kami dari Komdigi belum memutuskan upper 6 GHz ini akan digunakan untuk apa. Justru kami berharap ada masukan dan pertimbangan, terutama dari sisi public value dan timing," pungkasnya.
Simak Video "Video: Arnold Ph. Djiwatampu Raih Best Lifetime Achiever Dunia Telekomunikasi "
(agt/fay)