Komisi Eropa Peringatkan Anggotanya Soal Situs Radikal
- detikInet
Jakarta -
Ajakan gerakan radikal sudah bertebaran di internet. Beberapa diantaranya merupakan propaganda untuk dijadikan sebagai sarana rekrutmen pelaku bom diri.Misalnya seperti yang telah dilakukan seorang pria kelahiran Moroko bersama dua kaki tangannya. Mereka ditangkap pihak berwajib di Inggris karena dituding melakukan aksi propaganda via internet.Kasus lainnya di bulan September, seorang siswa Skotlandia yang menyebut dirinya sebagai calon pelaku bom bunuh diri dipenjara selama 8 tahun. Ia dituduh melakukan kejahatan terorisme yang didistribusikan via situs.Maraknya kasus propaganda radikal lewat internet ini seolah menyadarkan negara Barat tentang betapa berbahaya peranan internet dalam menyebarluaskan ajaran ekstrim serta perekrutan anggota militan.Akibatnya, Komisi Eropa pun segera mengambil tindakan. Mereka menghimbau 27 negara anggotanya untuk bersama-sama memerangi situs-situs radikal tersebut dengan cara menutupnya."Gerakan mereka begitu gesit dan mereka sudah begitu luas merambah internet. Bahkan, rekrutmen sampai proses pelatihan teroris bisa dilakukan via internet," kata Komisi Eropa dalam proposalnya.Namun, kalangan ahli pun meragukan kemampuan negara Barat untuk memerangi propaganda radikal via internet ini. Rencana pemberlakuan sensor terhadap situs radikal pun dinilai bukan cara yang efektif untuk menghentikannya."Di Cina yang sensornya ketatpun, pengguna dapat membuka blokirannya," ujar Johnny Ryan, peneliti dari Institute of International and European Affairs.Salah satu pemimpin radikal, Omar Bakri Mohammed yang mendapat larangan terbang ke Inggris pasca pengeboman di London 2005 silam, mengatakan bahwa pemblokiran situs radikal merupakan tindakan yang kontraproduktif. Dia menilai langkah ini hanyalah sebagai bagian dari kampanye melawan Islam."Seharusnya mereka menggelar diskusi, debat, dan dialog dengan Islam. Tak perlu ada sensor. Jika mereka pikir propaganda itu buruk, kenapa mereka tidak mendebatnya lewat media nasional?" ujarnya, mempertanyakan kebijakan tersebut seperti dikutip detikINET dari theglobeandmail, Kamis (8/11/2007).Peredaran situs-situs radikal di internet memang sudah marak, pidato dan video dari pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden bertebaran di internet. Dr Akil Awan, peneliti dari Universitas London memperkirakan saat ini terdapat lebih dari 5000 situs yang berasal dari kalangan ekstrim.
(ash/ash)