Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Meta dan YouTube Dituding Sengaja Bikin Anak Kecanduan

Meta dan YouTube Dituding Sengaja Bikin Anak Kecanduan


Anggoro Suryo - detikInet

Larangan Media Sosial Anak di Australia, Meta Nonaktifkan Ratusan Ribu Akun
Foto: DW (News)
Jakarta -

Meta Platforms dan YouTube menghadapi gugatan di California terkait tudingan bahwa mereka merancang produk yang sengaja dibuat adiktif bagi anak-anak.

Kasus ini diajukan oleh seorang perempuan berusia 20 tahun yang diidentifikasi di pengadilan sebagai Kaley G.M. Ia menggugat Meta, induk Facebook dan Instagram, serta Google sebagai pemilik YouTube.

Dalam sidang pembukaan pada Senin (waktu setempat), pengacara Kaley, Mark Lanier, mengatakan dokumen internal perusahaan menunjukkan platform tersebut dibangun untuk membuat anak-anak kecanduan media sosial.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Lanier menyebut perusahaan menciptakan mesin yang dirancang untuk membuat otak anak ketagihan dan dilakukan dengan sengaja melalui desain aplikasi, seperti dikutip detikINET dari Reuters, Rabu (11/2/2026).

Meta membantah tuduhan itu. Pengacara Meta, Paul Schmidt, mengatakan kondisi kesehatan Kaley tidak bisa hanya dikaitkan dengan penggunaan Instagram. Ia menyoroti riwayat kehidupan pribadi Kaley, termasuk hubungan keluarga yang sulit dan pengalaman kekerasan verbal maupun fisik.

"Jika Instagram diambil, tapi hal lain dalam hidup Kaley tetap sama, apakah hidupnya akan benar-benar berbeda?" kata Schmidt di depan juri.

Pengacara YouTube dijadwalkan menyampaikan pernyataan pembukaan pada Selasa. Meta dan Google sama-sama menolak klaim bahwa platform mereka menyebabkan dampak kesehatan mental seperti yang dituduhkan.

Kaley menilai aplikasi tersebut memperburuk depresinya hingga memicu pikiran untuk bunuh diri. Ia meminta perusahaan bertanggung jawab karena dianggap lalai dalam desain produk dan gagal memberi peringatan soal risikonya.

Hakim Pengadilan Tinggi Los Angeles, Carolyn Kuhl, menegaskan juri hanya dapat menilai tanggung jawab perusahaan atas desain dan operasional platform, bukan atas konten yang diunggah pengguna lain.

Jika putusan juri berpihak pada penggugat, hasilnya dapat membuka jalan bagi ribuan gugatan serupa terhadap perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat.

Saat ini Meta, Google, TikTok, dan Snap menghadapi ribuan tuntutan hukum terkait dampak media sosial terhadap kesehatan mental anak dan remaja. CEO Meta Mark Zuckerberg juga disebut berpotensi dipanggil sebagai saksi dalam persidangan yang diperkirakan berlangsung hingga Maret.

Gelombang gugatan ini juga sejalan dengan tekanan global terhadap platform media sosial. Sejumlah negara seperti Australia dan Spanyol telah melarang akses media sosial bagi pengguna di bawah usia 16 tahun, sementara negara lain mempertimbangkan kebijakan serupa.




(asj/asj)







Hide Ads