Set Top Box Gratis Bikin Suntik Mati TV Analog Berubah-ubah

ADVERTISEMENT

Set Top Box Gratis Bikin Suntik Mati TV Analog Berubah-ubah

Agus Tri Haryanto - detikInet
Selasa, 30 Agu 2022 20:16 WIB
Pemerintah mewanti-wanti masyarakat untuk bersiap migrasi ke TV digital. Set top box (STB) untuk migrasi ke TV digital pun sudah mulai marak dijual di toko elektronik.
Set top box TV digital (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Terhitung sudah dua kali Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melakukan perubahan skema penghentian siaran TV analog untuk dialihkan ke siaran TV digital. Terkait hal tersebut, Kominfo mengungkapkan alasannya.

Dikatakan Direktur Penyiaran Direktorat Jenderal Penyelenggara Pos dan Informatika (Ditjen PPI) Kementerian Kominfo, Geryantika Kurnia, Kominfo awalnya menggunakan skema lima tahap peralihan penyiaran atau Analog Switch Off (ASO) bertepatan dengan 17 Agustus 2021. Tetapi itu urung dilakukan, salah satunya karena kondisi pandemi COVID-19 yang makin meluas dampaknya.

Kemudian saat itu, Kominfo memutuskan menunda ASO yang dimulai 30 April 2022 dengan menyesuaikan peralihan penyiaran jadi tiga tahap saja.

Tetapi akhir 25 Agustus kemarin, Kominfo kembali merubah suntik mati TV analog ini menggunakan cara multiple ASO. Dengan multiple ASO, maka penerapan penghentian siaran TV analog dilakukan secara terus-menerus sampai batas akhir migrasi penyiaran pada 2 November 2022.

"Kenapa sih tahapan ASO ini pemerintah ubah-ubah. Dulu ada tahapan ASO, 30 April, 25 Agustus, dan terakhir 2 November 2022. Nah, ketika kita lakukan evaluasi ASO di tahap pertama, di situ ternyata, dari infrastruktur itu sudah siap semua, yang belum itu kuota set top box," ujar Gery dalam Sosialisasi ASO secara online, Selasa (30/8/2022).

"Saya ingin menyampaikan distribusi set top box ini dari mana asalnya? Jadi, dari PP No. 46 itu kewajiban set top box gratis ini berasal dari penyelenggara multipleksing. Pemenang seleksi multipleksing ini itu mendapatkan privilege untuk infrastruktur digitalnya. Saya sampaikan, ini akibat swasta tertatih-tatih distribusi set top box sampai sekarang masih kecil (distribusinya-red)," tuturnya.

Sebagai informasi, penyelenggara multipleksing selain Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI, ada sebelas perusahaan televisi swasta nasional dari enam grup perusahaan yang telah ditunjuk dan ditetapkan sebagai penyelenggara multipleksing yaitu SCTV dan Indosiar (Grup EMTEK), Metro TV, RCTI dan Global TV (Grup MNC), Trans TV dan Trans 7 (Trans Corp), Rajawali Televisi atau RTV, TV One dan ANTV (Grup Viva), dan Nusantara TV.

Kominfo sendiri dalam beberapa kesempatan terakhir mengungkapkan kriteria terbaru penerima set top box TV digital gratis, yakni rumah tangga miskin ekstrem. Bantuan ini agar seluruh masyarakat, khususnya yang tidak mampu, bisa menikmati siaran TV digital, saat TV analog dimatikan.

"Jadi, yang diberi adalah masyarakat miskin secara ekstrem. Miskin secara ekstrem itu misalnya, sama sekali tidak punya rumah, tidak punya penghasilan tetap, dan lain sebagainya, sudah ada kriterianya," kata Staf Khusus Menkominfo, Rosarita Niken Widiastuti.

"Memang betul untuk data orang semua tidak mampu itu diberi, itu tidak, karena rumah tangga miskin, tetapi tidak punya televisi analog, ya tidak diberi, yang diberi hanya rumah tangga miskin ekstrem yang memiliki televisi," kata Niken menambahkan.

Sementara itu, stasiun TV yang juga penyelenggara mux saat rapat dengan Komisi 1 DPR mengeluhkan pengadaan distribusi set top box gratis TV digital yang jadi beban perusahaan karena diterpa pandemi. Selain itu, data penerima yang tidak sesuai di lapangan alias tidak akurat sampai persoalan lokasi penerima bantuan yang sulit dijangkau hingga menambah biaya pengiriman.

"Ada beberapa kendala dalam distribusi set top box, masalah utama adalah data, misalnya data rumah tangga miskin yang disampaikan Kominfo itu data tahun 2013, sehingga memang tidak akurat, apalagi adanya pandemi jumlah rumah tangga miskin bisa bertambah," ungkap Direktur Viva Group Neil R. Tobing.

Temuan di lapangan lainnya, lokasi penerima set top box gratis TV digital ini berada di wilayah yang sulit dijangkau dengan moda transportasi roda empat, bahkan roda dua juga tidak ditembus.

"Bahkan, penerima set top box gratis tidak berada di wilayah siaran TV ter-cover oleh siaran TV analog, apalagi siaran TV digital. Jadi, saat ini mereka menggunakan televisi berbayar karena area blankspot, tetapi data rumah tangga miskin memasukkan mereka sebagai penerima subsidi dalam bentuk set top box," tuturnya.



Simak Video "Wilayah Jabodetabek Siap-siap Migrasi TV Analog ke Digital"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT