Mengenal Apa Itu Starlink, Satelit Elon Musk yang Masuk Indonesia

Mengenal Apa Itu Starlink, Satelit Elon Musk yang Masuk Indonesia

Agus Tri Haryanto - detikInet
Senin, 13 Jun 2022 14:11 WIB
Roket Falcon 9 SpaceX membawa satelit internet Starlink
Mengenal Apa Itu Starlink, Satelit Elon Musk yang Masuk Indonesia. Foto: Space.com
Jakarta -

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memberikan Hak Labuh kepada PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat) untuk penyelenggaraan jaringan tetap tertutup Starlink, satelit milik salah satu orang terkaya di dunia, yakni Elon Musk. Yuk, berkenalan dengan satelit Starlink.

Starlink adalah konstelasi satelit internet yang dioperasikan oleh SpaceX untuk menyediakan sistem komunikasi internet berbasis satelit ke berbagai wilayah yang ada di Bumi.

Beroperasi di orbit rendah Bumi atau dikenal dengan Low Earth Orbit (LEO) acapkali jadi solusi broadband di pedesaan atau daerah yang tidak ada akses internet karena ketiadaan fiber optik atau base transceiver station (BTS) di wilayah tersebut.

Dikutip dari berbagai sumber, Senin (13/6/2022) pertama kali Starlink diumumkan kehadirannya pada Januari 2015 seiring dengan dibukanya fasilitas pengembangan SpaceX di Redmond, Washington, Amerika Serikat.

SpaceX pertama kali meluncurkan satelit sejak 2019 hingga saat ini aktif meluncurkan Starlink ke luar angkasa.

Dalam satu peluncuran, SpaceX bisa mengangkut puluhan hingga ratusan satelit Starlink secara massal ke luar angkasa. Satu satelit Starlink ini bisa 227 kg sampai 295 kg.

"Dengan kecepatan tinggi dan latensi serendah 20 ms di sebagian besar lokasi, Starlink memungkinkan melakukan panggilan video, game online, streaming, dan aktivitas kecepatan data tinggi lainnya yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan dengan satelit internet lainnya," kata Starlink dalam situsnya.

Jaringan konstelasi Starlink ini berada dalam tiga ketinggian orbit yang berbeda. Pertama, orbit di ketinggian 550 km di atas permukaan Bumi. Kedua, mengisi orbit setinggi 340 km, serta ketiga di atas ketinggian 1.200 km.

Saking menjamurnya Starlink di orbit, tak sedikit masyarakat yang menyaksikan bintik-bintik cahaya menghiasi angkasa pada malam hari. Bahkan, ada yang mengira benda yang terbang itu UFO, seperti pernah viral di Bali pada malam Nyepi. Padahal, itu adalah satelit Starlink.

Karena jumlahnya yang banyak, keberadaan Starlink ini juga dikritik karena dinilai mengganggu pengamatan astronomi dan luar angkasa hingga polusi cahaya. Padahal, Starlink memiliki fungsi utama sebagai penyedia konektivitas berbasis satelit.



Simak Video "SpaceX Luncurkan Roket Yang Berisi 53 Satelit Starlink Baru"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/fay)