Toko Aplikasi Google-Apple Dituding Monopoli dan Kemaruk

Toko Aplikasi Google-Apple Dituding Monopoli dan Kemaruk

Fino Yurio Kristo - detikInet
Jumat, 23 Apr 2021 08:15 WIB
Ilustrasi smartphone
Ilustrasi. Foto: Freepix
Jakarta -

Toko aplikasi Play Store kepunyaan Google dan App Store milik Apple dituding menjalankan praktik monopoli dan anti kompetisi. Hal itu menjadi sasaran kritik senator Amerika Serikat dan juga beberapa pembuat aplikasi terkenal.

Salah satu hal yang dianggap sangat memberatkan bagi para developer adalah Apple dan Google minta bagian besar, yakni sampai 30% dari hasil penjualan di aplikasi. Senator Amy Klobuchar pun menyebut jika baik Play Store dan App Store benar-benar merupakan monopoli.

Menurut dia, seperti dikutip detikINET dari BBC, Jumat (23/4/2021), kedua toko aplikasi menolak atau menekan aplikasi yang berkompetisi dengan produk mereka. Selain itu, ongkos besar yang dibebankan juga memberatkan.

Seperti diketahui, Play Store dan App Store saat ini menjadi toko aplikasi paling populer dan bisa dikatakan tanpa pesaing, seiring melesatnya pengguna ponsel Android dan iOS. Maka itulah, developer menuding mereka bisa meminta bagian besar dari aplikasi yang dijual.

Head of Global Affairs Spotify, Horacio Gutierrez, menyebut biaya yang dibebankan App Store tidak adil dan bahkan ia deskripsikan sebagai pajak Apple. Tak hanya itu, Apple juga berkompetisi langsung dengan Spotify melalui layanan Apple Music.

"Ini adalah kontrol monopoli tangan besi. Ketika pemain industri mendikte bagaimana aplikasi beroperasi, seberapa banyak mereka dipaksa untuk membayar dan dalam banyak kasus, apakah mereka bahkan bisa bertahan, ini adalah monopoli," demikian tudingan dari General Counsel aplikasi Match, Jared Sin.

Baik Apple dan Google menolak toko aplikasi App Store dan App Store melakukan praktik monopoli dan bahwa biaya yang dibebankan pada developer sudah adil.



Simak Video "Apple Bakal Tendang Aplikasi yang Langgar Fitur Privasi"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fyk)