Monopoli Amerika Atas Internet Terus Dikecam
- detikInet
Jakarta -
Desakan banyak negara untuk segera melepaskan struktur organisasi Internet dari bayang-bayang pemerintah Amerika Serikat, semakin menguat. Kini negara-negara petrodolar, alias Arab, yang mulai gerah dengan kondisi tersebut.Adalah Khaled Fattal, CEO Multi-lingual Internet Names Consortium (MINC), salah satu tokoh Internet Arab yang cukup vokal mengkritik. Khaled juga sebagai salah satu anggota penasehat sebuah komite internasional yang berupaya menginternasionalkan nama domain.Melalui surat terbukanya yang dibuat dalam format PDF, Khaled mengecam gaya Amerika Serikat yang secara de facto menjalankan kontrol monopolistik terhadap Internet. Surat yang kemudian dkirimkan pula ke para pemimpin ICANN, sebuah organisasi internasional yang salah satunya mengurusi soal nama domain.Khaled juga menegaskan bahwa gaya pemerintahan Presiden Bush yang semakin tidak populer secara internasional, juga akan membawa pengaruh yang tidak baik bagi Internet. Penyataan Khaled tersebut dipublikasikan segera setelah serangkaian pertemuan tentang pengembangan penggunaan bahasa selain bahasa Inggris dan alfabet 'western' (ASCII), yang diadakan oleh Presidium Komite Penasehat ICANN di Vancouver.Dalam kesempatan tersebut, Khaled juga menekankan bahwa 4 miliar dari 6 miliar penduduk dunia menggunakan alfabet 'non-western' (non-ASCII). Sehingga pihak otorisasi Internet dapat lebih terbuka dalam menyikapi keanekaragaman budaya-budaya yang belum direpresentasikan secara baik di Internet. Demikian seperti ditulis oleh Sci-Tech News, dan dikutip oleh detikinet, Rabu (7/12/2005).
(dwn/)