Sabtu, 08 Jun 2019 20:31 WIB

Menkominfo Bicara Privasi dan Perlindungan Data di Pertemuan G20

Agus Tri Haryanto - detikInet
Foto: Kominfo Foto: Kominfo
Jakarta - Pertemuan para menteri digital anggota G20 di Jepang mencoba mendorong untuk diperbolehkannya pertukaran data informasi secara global. Terkait hal itu, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara ingatkan kepada forum soal privasi dan perlindungan data.

Di G20 Digital Economy Ministerial Meeting, Menkominfo hadir tidak sendirian, ada juga Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita yang mewakili Indonesia pada pertemuan tersebut.



Ada tema besar dan menjadi bagian deklarasi dalam pertemuan antar-menteri 20 negara besar ini, di antaranya terkait Society 5.0, Human Centered Artificial Intelligence, Data Free Flow with Trust (DFFT), Government Innovation, Security, dan SDGs & Inclusion.

Dari keenam tema di atas, pembahasan mengenai DFFT jadi yang paling mendominasi. DFFT yang diinisiasi Jepang sebagai Presidency G20 diyakini akan meningkatkan efisiensi proses bernilai ratusan miliar USD setiap tahunnya.

Menkominfo Rudiantara dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Foto: Kominfo


DFFT yang diusulkan adalah diperbolehkannya pemindahan/pertukaran data/informasi untuk sektor yang berbeda secara global.

"Indonesia menyampaikan counter proposal, yaitu pelaksanaannya harus dilakukan secara inklusif dan bersyarat. Harus memperhatikan aspek-aspek antara lain, masalah privasi, perlindungan data, intellectual property right & security," kata Rudiantara kepada detikINET, Sabtu (8//6/2019).

Intervensi oleh Menkominfo saat Rapat Menteri-menteri Ekonomi Digital G20. Foto: Kominfo


"Lebih jauh harus juga memperhatikan/menghormati legal frameworks, baik dalam negara anggota G20 maupun secara internasional. Counter proposal Indonesia banyak didukung oleh negara anggota G20, khususnya negara-negara yang penduduknya banyak. Sampai saat ini, drafting deklarasi atas issu DFFT masih dilakukan," tuturnya.

Rudiantara menjelaskan DFFT ini merupakan pemindahan data secara terbuka. Sebagai contoh, maskapai penerbangan yang biasa melakukan pemeliharan atas mesin jetnya berkala secara fisik.

Di G20, MenkominfoBilateral meeting Menkominfo dan Minister ICT Kingdom of Saudi Arabia, Abdullah A Alswaha. Foto: Kominfo



Apabila data operasional jet dikirim setiap hari, maka proses big data analysis serta artificial intelligence bisa dibuat proyeksi, kapan harus dilakukan pemeliharaan tanpa harus dilihat secara fisik.

"Hal ini tentunya memberikan tingkat efisiensi yang tinggi. Dalam hal ini, airline tidak seharusnya memberikan halangan/batasan bagi pembuat mesin jet untuk memperoleh data secara rutin yang berasal dari mesin jet yang dibuatnya," pungkasnya.



Menkominfo menceritakan rapat menteri-menteri ekonomi digital ini berlangsung Sabtu (8/6/2019) dari pagi sampai sore hari, termasuk working lunch.

Sebelumnya, Menkominfo melakukan bilateral meeting dengan Menteri Dalam Negeri & Komunikasi Jepang di Tokyo dan Menteri ICT Kerajaan Saudi Arabia pada hari Jum'at di Tsukuba, Jepang. Pagi tadi juga diadakan bilateral meeting dengan Menteri ICT Australia & Korea Selatan. (agt/rns)