Senin, 08 Apr 2019 14:42 WIB

Bicara Pemilu 2019, Kominfo: Ruang Siber Tanggung Jawab Kami

Agus Tri Haryanto - detikInet
Dirjen Aptika Kementerian Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan. Foto: detikINET/Agus Tri Haryanto Dirjen Aptika Kementerian Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan. Foto: detikINET/Agus Tri Haryanto
Jakarta - Kemeriahan pemilu 2019 tak hanya menggema di dunia nyata, tetapi internet juga, mungkin bahkan lebih ramai di dunia aslinya. Untuk menjaga stabilitas di ruang siber, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melakukan beberapa cara dalam menjalankan perannya tersebut.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Dirjen Aptika) Kementerian Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan mengungkapkan bahwa ruang siber atau internet ini jadi ranah tanggung jawab instansinya. Terlebih menjelang Pemilu 2019 yang akan diselenggarakan pada 17 April nanti.

"Peran kita (Kominfo) di Pemilu, kan? kita menjaga ruang siber, karena kita bertanggungjawab konten-konten yang di ruang siber," ucap Semuel membuka sesi wawancara dengan detikINET di ruang kerjanya, Gedung Kominfo, Jakarta, beberapa waktu lalu.




"Nah, bagaimana objektif kita di pemilu ini, (dengan) bagaimana menjaga kualitas, malah meningkatkan yang namanya pemilu, demokrasi di Indonesia," sambungnya.

Semuel mengetahui kalau dunia maya ini adalah hal baru bagi masyarakat RI, di mana internet diciptakan oleh manusia untuk berbagai kemudian dan terdapat banyak sekali manfaat di dalamnya.

Dirjen Aptika pun memberikan contoh dari sisi positif internet tersebut, misalnya dapat dimanfaatkan oleh peserta kampanye untuk menyampaikan informasi dan program mereka ke khalayak luas.

Dirjen Aptika Kementerian Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan.Dirjen Aptika Kementerian Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan. Foto: detikINET/Agus Tri Haryanto


Tetapi, dalam perjalanannya, ruang siber ini justru banyak disalahgunakan dengan masifnya peredaran hoax hingga ujaran kebencian di tengah-tengah masyarakat. Konten-konten tersebut kian bikin resah, terutama menjelang pemilu ini yang trennya terus meningkat dari sebelumnya.

"Sebenarnya peran kami itu kami ingin pemanfaatan ruang ini dimanfaatkan secara baik dan benar dan malah bisa membuat kualitas demokrasi kita lebih baik," kata mantan Ketua APJII ini.

Bagaimana Caranya?

Kominfo mengaku terus berkoordinasi dengan para penyedia medsos untuk memberikan pengarahan kepada peserta pemilu tentang bagaimana menggunakan platform mereka masing-masing. Selain itu juga, Kominfo juga bekerjasama dengan pihak terkait, KPU dan Bawaslu soal pemilu di medsos.

Sedangkan dari sisi masyarakatnya, pria yang disapa Semmy ini menyebutkan kalau Kominfo gencar melakukan literasi digital, khususnya kepada para pengguna internet pemula.



"Ke masyarakat kita lakukan edukasi, kita didik ataupun tingkatkan pengetahuan tentang memanfaatkan ruang siber. Selama ini masyarakat itu mudah sekali terkena berita bohong, fake news, fitnah, padahal kalau mereka punya pengetahuan tentang ruang siber itu bisa memanfaatkan ruang siber sebagai tempat mengklarifikasi.

"Permasalahannya memang ada sebagian besar masyarakat kita yang baru-baru menggunakan internet itu belum tahu caranya. Gap-gap ini yang ingin kita perkecil, supaya pengetahuan mereka sama. Misalnya, "eh, kalau terima berita itu harus tahu sumbernya". Nggak mungkin kalau berita itu besar, tidak di-cover oleh media. Penting sekali kalau mendapatkan informasi, harus tahu sumbernya, apakah sumber ini dapat dipercaya, kalau dari media, media ini apa, berapa lama media ini berkecimpung di dunia jurnalistik," pungkasnya.

Proses-proses memvalidasi informasi dengan mencari informasi kembali di internet jadi salah satu cara Kominfo meningkatkan literasi digital masyarakat terkait informasi yang diduga hoax. (agt/fyk)