Banyak Dirut Cuek Soal Software Bajakan
- detikInet
Jakarta -
Pimpinan perusahaan sering kali lalai akan aspek legalitas dari software yang diimplementasikan di perusahaannya. Mereka sering kali menganggap hal itu adalah tanggung jawab karyawan bidang teknologi informasi (TI).Pernyataan tersebut disampaikan Roland Chan, Director of Marketing BSA Asia, dalam acara seminar Software Asset Management (SAM) yang berlangsung di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (25/8/2005).Acara yang diselenggarakan BSA bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Dirjen HAKI), membahas mengenai pengelolaan software sebagai aset, serta pentingnya penghargaan hak cipta software.Kepedulian petinggi perusahaan akan hak cipta software juga menjadi perhatian Komisaris Besar Polisi Unit INDAGBARESKRIM Polri, Dr. Edi Wardojo. Edi menceritakan pengalamannya saat menertibkan perusahaan yang ketahuan memakai software bajakan. "Biasanya pimpinan perusahaan kaget kalau perusahaannnya dinyatakan memakai software bajakan. Mereka biasanya bilang tidak tahu-menahu soal instalasi software di perusahaan, karena itu biasa ditangani bagian TI," papar Edi.Dalam kasus ini, kata Edi, pimpinan perusahaan tetap salah. Karena bagaimana pun juga, tanggung jawab tertinggi dalam sebuah perusahaan ada padanya. "Namun dalam kasus tertentu, tidak menutup kemungkinan kalau ada karyawan yang juga dituntut bertanggung jawab jika melakukan pelanggaran hak cipta software di perusahaan," imbuhnya.Kasus tertentu yang dimaksud Edi adalah, apabila ada software yang diinstal karyawan di komputer perusahaan tanpa sepengetahuan pimpinan, dan itu digunakan bukan untuk keperluan perusahaan. "Jika software itu bajakan, tidak menutup kemungkinan kalau karyawan yang bersangkutan juga ditindak," papar Edi.Ketidakpedulian pimpinan perusahaan, juga dinilai menjadi penyebab gagalnya SAM. Pimpinan perusahaan sebagai pihak yang membuat keputusan, biasanya tidak menganggap software sebagai aset yang harus dikelola dengan baik. Jimmy Wu, ahli dalam bidang SAM mengatakan hal itu. Kenapa itu terjadi? Jimmy menjelaskan bahwa kegagalan SAM biasanya disebabkan oleh beberapa antara lain: SAM sering kali dianggap hanya tanggung-jawab divisi TI; Kurang adanya kesadaran bahwa hal tersebut adalah kebutuhan organisasi secara keseluruhan; kebijakan biasanya berlaku random dalam artian tidak terjaga kontinyuitasnya; kurangnya dukungan yang koheren dari segi proses dan infrastruktur.Harga SoftwareKarena tidak menganggap software sebagai aset, menurut Jimmy, hal tersebut mendorong perusahaan untuk lebih memilih software bajakan ketimbang yang asli. Selisih harga antara software asli dengan software bajakan, disebut-sebut sebagai alasan kenapa konsumen lebih memilih software bajakan."Orang sering kali menganggap harga sebagai alasan untuk membajak," katanya. "Tapi kenyataannya, pembajakan juga dilakukan oleh perusahaan besar, yang penghasilannya miliaran. Jelas harga software asli bukan lagi masalah untuk perusahaan seperti ini. Pembajakan dilakukan mulai dari perusahaan kecil sampai besar," kata Jimmy.Hal senada juga diutarakan Roland Chan. "Sebenarnya masalahnya bukan pada harga, tapi lebih kepada itikad. Tidak ada hubungannya antara harga dengan tingkat pembajakan," ujar Chan. "Buktinya, software yang banyak dibajak bukanlah software mahal, tapi malah software yang lebih murah seperti anti-virus."Pembajakan, dituduh sebagai faktor pendorong lesunya kreativitas dan membuat investor enggan menanamkan modalnya. Dalam bidang pembajakan software, Indonesia ada di peringkat ke-5 dunia dan ke-3 Asia. Menurut data IDC 2005, di Indonesia, pembajakan software selama tahun 2004 mencapai 87 persen, artinya 87 dari 100 software yang beredar adalah bajakan.
(nks/)