Target Kominfo: ICT RI Setara Malaysia 2010
- detikInet
Jakarta -
Kondisi Indonesia dalam bidang perkembangan information and communication technology (ICT) dirasa masih rendah. Dengan Malaysia, Indonesia terpaut dua tingkat. Tahun 2010, Kominfo menargetkan paling tidak RI sudah setara Malaysia. Dirjen Telematika Cahyana Ahmadjayadi berpendapat Indonesia masih berada dalam stage 1 (tingkat bawah) perkembangan ICT. Sedangkan Malaysia dianggapnya telah mencapai stage 3. "Tahun 2010 Indonesia dibidang ICT naik ke stage 3, setara dengan Malaysia," ujarnya kepada detikinet, Kamis (11/8/2005).Posisi tinggi, stage 7, saat ini ditempati oleh negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, Jepang, Swedia, Kanada, dan Prancis. Untuk bisa naik naik ke stage 3, menurut Cahyana, harus didukung oleh pendayagunaan semua sektor ICT.Struktur industri ICT di Indonesia, Cahyana menguraikan, didominasi oleh industri software seperti sistim integrasi, aplikasi, jasa layanan, dan konten sebesar 70 persen. Sedangkan industri hardware seperti peralatan infrastruktur dan komponen spare part sebesar 30 persen.Data itu cukup kontras dengan struktur pembelanjaan ICT di Indonesia. Berdasarkan hasil riset Intelligence International Australia, pada 2005 bgelanja ICT didominasi oleh belanja hardware (79,49 persen), sedang sisanya belanja software (7,85 persen) dan jasa (12,66 persen).Sektor Telekomunikasi MenonjolUntuk mencapai stage 3, pertumbuhan ICT di Indonesia diperkirakan akan lebih menonjol di sektor telekomunikasi selular. Berdasarkan data hasil riset BRTI hingga kuartal ketiga 2004, pertumbuhan selular mendominasi dengan angka 27 juta. Sedangkan fixed wireless baru mencapai 9 juta.Angka 27 juta pengguna selular 2004 diperkirakan baru 10 persen dari jumlah penduduk di Indonesia dengan pendapatan total sebesar Rp 40 triliun. Kominfo menargetkan pertumbuhan selular sebesar 50 persen pada 2010 dengan pendapatan Rp 80-100 triliun. "Separuh penduduk Indonesia akan punya ponsel pada 2010 karena growth-nya tinggi dibanding internet," kata Cahyana.Cahyana membeberkan, investasi infrastruktur dan peralatan telekomunikasi selular dan fixed wireless pada 2004 mencapai US$ 1,5 miliar. Dari angka itu, industri manufaktur lokal hanya 2 persen. Pada tahun 2004, jumlah angka konten lokal tidak terlalu signifikan.Sedangkan pada 2010, investasi yang diperkirakan untuk infrastruktur saja mencapai US$ 5 miliar dengan muatan industri manufaktur lokal lebih besar. Pada tahun 2010, jumlah angka konten lokal ditargetkan mencapai 10-20 persen.Untuk sektor pertumbuhan internet, data Ditjen Postel, pelanggan internet tahun 2004 mencapai 1,1 juta. Hingga akhir tahun 2005, jumlah kumulatif pelanggan diperkirakan mencapai 1,5 juta. Untuk jumlah pemakai internet, pada 2004 tercatat sekitar 11,2 juta. Pada akhir 2005 diperkirakan mencapai 16 juta.Piranti Lunak dan PCSelain menargetkan pertumbuhan sektor telekomunikasi hingga 2010, Kominfo juga menargetkan pertumbuhan di sektor ICT lainnya. Misalnya, jumlah pengembang piranti lunak lokal bisa menjadi 500 dari kurang lebih 100 yang ada sekarang.Berdasarkan data Asosiasi Piranti Lunak Indonesia (Aspiluki), saat ini jumlah anggota Aspiluki mencapai 120. Cahyana memperkirakan jumlah pengembang piranti lunak lokal di Indonesia yang belum terdaftar bisa mencapai empat kali lipat dari jumlah anggota Aspiluki.Di sisi penetrasi komputer, yang pada 2005 mencapai 0-11 persen dari jumlah penduduk (5 juta), ditargetkan mencapai 10-30 persen pada 2010 (sekitar 12 juta).Masalah pembajakan juga ikut diangkat dalam kampanye program Kominfo. Angka pembajakan software berlisensi di Indonesia pada 2005 yang berkisar 60-80 persen, ditargetkan turun secara bertahap dari 40-60 persen hingga 20-30 persen pada 2010.Masih soal target, Cahyana juga mengungkapkan target Indonesia menjadi masyarakat berbasis ICT pada tahun 2025. Hal ini tentunya setelah mencapai target 50 persen penduduk tersambung ke Internet pada 2015.
(wsh/)