Satria Kepencet Tinggalkan Jejak EW di Milis ITB
- detikInet
Jakarta -
Satria Kepencet masih menjadi bahan omongan. Tulisannya di Mailing List (Milis) ITB konon membuat petinggi Kompas marah. Jati diri Satria Kepencet masih misterius. Toh Satria Kepencet meninggalkan jejak di email yang dikirimkannya ke sekretaris Tim TI KPU, Basuki Suhardiman. Jejak itu berupa inisial EW.Date: Thu, 14 Apr 2005 17:55:34 -0700 (PDT)From: EW <[EMAIL PROTECTED]>To: Basuki Suhardiman <[EMAIL PROTECTED]>Header di atas tercantum dalam email Satria Kepencet kepada Basuki Suhardiman. Email itu kemudian diteruskan (diforward) Basuki ke Milis ITB. Email Satria Kepencet ini merupakan tulisan pertama Satria Kepencet yang nongol di Milis ITB. Judul tulisannya: Sebuah Drama Picisan (http://www.mail-archive.com/itb@itb.ac.id/msg46819).Jejak Satria Kepencet terlihat dari From: EW. Meski alamat email disembunyikan, namun terlihat jelas email yang dikirim ke Basuki tersebut berasal dari seseorang yang berinisial EW. To-nya juga jelas: Basuki Suhardiman.Namun, dalam tulisan yang menyengat Harian Kompas, jejak EW tersebut menghilang. From tidak lagi mencantumkan inisial EW, tapi Satria Kepencet. To-nya juga disembunyikan. Date: Fri, 22 Apr 2005 23:04:17 -0700 (PDT)From: Satria Kepencet <[EMAIL PROTECTED]>To: [EMAIL PROTECTED]Subject: soal kompasTulisan Satria Kepencet ini berjudul Kompas: Obyektivitas Pers yang Hilang (http://www.mail-archive.com/itb@itb.ac.id/msg47301.html). Di milis ITB itu, Satria Kepencet menuding wartawan Kompas berinisial dik telah menerima gaji bulanan dari pejabat KPU."Kompas juga terlibat dalam proyek percetakan surat suara melalui Gramedia. Pada percetakan surat suara Pilpres pertama, Gramedia bahkan dipanggil langsung oleh ketua panitia tender percetakan surat suara HA, tanpa sepengetahuan PT Temprina sebagai pimpinan konsorsiumnya. Hasilnya, Gramedia berdiri sendiri dan tidak berada lagi dalam konsorsium," demikian tulis Satria Kepencet.Tentu saja, sengatan Satria Kepencet membuat Kompas marah. Kompas pun berharap, Satria Kepencet berani mengungkapkan jati dirinya. Redaktur Kompas bidang Politik dan Hukum, Budiman Tanuredjo menyatakan, jika tuduhan itu tak bisa dibuktikan, tentunya hal itu sudah merupakan pencemaran nama baik dan juga pembunuhan karakter."Yang amat sangat disayangkan, hal itu dilakukan oleh orang-orang intelektual yang telah menggunakan instrumen teknologi informasi untuk menista orang," tandas Budiman kepada detikcomPertanyaan besarnya, siapakah sebenarnya Satria Kepencet? Kalau dilihat dari tulisannya yang paham betul dengan berbagai persoalan di KPU, bahkan beberapa detilnya, orang menduga, Satria Kepencet itu hampir pasti orang dalam di KPU. Setidaknya, ia berada di lingkaran dalam KPU.Yang kemudian jadi korban isu adalah Emir Wiraatmaja. Emir disebut-sebut sebagai anggota Tim TI KPU yang dekat dengan anggota KPU Chusnul Mar'iyah. Kalau mengacu pada huruf depannya, Emir Wiraatmaja memang bisa diinisialkan EW.Benar Emir adalah Satria Kepencet? Kepada detikcom, Senin (2/5/2005) Emir membantah keras. Emir menyatakan, dirinya tidak pernah menggunakan nama samaran Satria Kepencet. Emir juga membantah pernah menggunakan inisial EW. "Kalau saya menulis, saya selalu pakai inisial EMZ," kata Emir. EMZ adalah panggilan kecil Emir. Nama lengkap Emir adalah Tubagus Emir Wiraatmaja. Dia kini menjadi wartawan Ebizzasia.com. "Sudah tiga tahun saya di Ebizzasia sampai sekarang," ujar dia. Emir juga terheran-heran dirinya disebut sebagai staf ahli IT KPU. "Saat Pemilu 2004 lalu, saya di KPU juga seperti teman-teman lain. Sebagai wartawan," ujarnya. Emir sendiri mengaku juga ikut membaca tulisan Satrio Kepencet. Apalagi, soal Satrio Kepencet banyak diberitakan di internet maupun di media cetak. "Kalau saya lihat, orang ini memang luar biasa. Dia punya data-data yang lengkap, berikut angkanya. Teman-teman yang melakukan investigasi di KPU sempat bilang, data yang dimiliki penulis ini memang melebihi wartawan," ujar dia. Hubungannya dengan Basuki Suhardiman, menurut Emir, hanya sebatas kenal. Tidak lebih. "Ya kenal, antara wartawan dan sumber berita saja," ungkapnya. Sedangkan Basuki Suhardiman, ketika dihubungi detikcom, kali ini memilih untuk tidak bicara. "Saya tidak ada komentar," katanya kepada detikcom. Satria Kepencet masih misterius?
(bdi/)