Izin Wi-Max untuk Aceh akan Dipercepat
- detikInet
Jakarta -
Departemen Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Postel) berjanji akan mempercepat keluarnya izin frekuensi Wi-Max untuk Aceh. "Sampai saat ini, pengurusan izin Wi-Max sudah masuk dalam tataran bahwa pemerintah melalui Kominfo akan membantu memperlancar masuknya Wi-Max ke Aceh," kata Edwardo Rusyid, Ketua Yayasan Air Putih. Air Putih adalah lembaga nirlaba yang mengembangkan infrastruktur Teknologi Informasi dan Telekomunikasi (Infromation and Communication Technology - ICT) di Aceh. Tim telah bertemu Menteri Kominfo Sofjan A. Djalil dan Dirjen Postel Djamhari Sirat, untuk membicarakan masalah perizinan ini.Seperti diberitakan sebelumnya, Air Putih akan menjadi lembaga yang mengelola pengimplementasian teknologi Wi-Max di Aceh. Infrastrukturnya merupakan hibah dari perusahaan chipset internasional, Intel Corp. Sampai saat ini bantuan telah disiapkan, hanya saja belum bisa masuk ke Indonesia karena masalah perizinan yang belum terselesaikan. Tim Air Putih telah melakukan pendekatan kepada pemerintah, agar perizinan ini dipercepat. Untuk mendatangkan infrastruktur ini, diperlukan izin frekuensi (dimana Wi-Max menggunakan frekuensi 5,7 GHz), Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi dan izin bea & cukai."Akan mubazir kalau infrastruktur yang sudah dihibahkan kepada kita, tidak dimanfaatkan dengan baik hanya karena masalah internal," kata Edwardo. Dia juga mengatakan bahwa masalah perizinan harus sudah diselesaikan sebelum tanggal 21 April. Mengingat setelah tanggal itu, Intel akan mengalihkan bantuan tersebut ke negara lain yang juga menjadi korban tsunami seperti Malaysia dan Sri Lanka.Sementara itu, Dirjen Postel Djamhari Sirat, menyatakan bahwa masalah izin frekuensi ini sudah dibicarakan dengan Menteri Kominfo, Sofjan Djalil. "Sedang dibicarakan dengan Menteri. Mudah-mudahan bisa cepat," kata Djamhari ketika dihubungi detikcom, Senin (4/4/2005). Ketika ditanya apakah izin tersebut bisa keluar dalam minggu-minggu ini, Djamhari mengatakan belum tahu soal itu. "Saya tidak tahu, kapan izin tersebut akan keluar," katanya.Pasca bencana gempa dan tsunami melanda Aceh Desember 2004 lalu, tim Air Putih aktif membangun infrastruktur ICT di Aceh. Infrastruktur yang sudah tersedia banyak dimanfaatkan untuk keperluan transfer data dan informasi, baik oleh relawan maupun wartawan yang ada di Aceh.Bekerjasama dengan Intel dan Global Marine, tim juga akan membangun infrastruktur Wi-fi dengan 50 Client Premises Equipment (CPE), serta kabel fiber optik bawah laut berkapasitas STM64 (sekitar 8 Giga Bit per Second). Serat optik ini akan menghubungkan kota Meulaboh, Calang, Banda Aceh, dan Lhokseumawe, dan diterminasikan di Medan. Jaringan ini akan terhubungkan ke kabel fiber optik internasional SEA-ME-WE 3 (South East Asia-Middle East-Western Europe) yang melintasi Selat Malaka.Bantuan untuk NiasPasca bencana gempa melanda Nias dan kawasan lain di Sumatera Utara dan Nangroe Aceh Darusalam, Yayasan Air Putih juga mengirim personilnya ke Nias. Misinya masih sama, yaitu membangun infrastruktur ICT di kawasan tersebut."Kita baru kirim tim 3 orang kesana. Kemungkinan kita akan membantu memperbaiki infrastruktur yang sudah ada, tapi mungkin juga kita akan membangun baru disana," kata Edwardo.
(nks/)