Jumat, 04 Ags 2017 08:56 WIB

Wawancara Khusus

Menteri Rudiantara Beberkan Kisah Pemblokiran Telegram

Achmad Rouzni Noor II, Agus Tri Haryanto - detikInet
Foto: Ari Saputra Foto: Ari Saputra
Jakarta - Tak ada angin tak ada hujan, Telegram tiba-tiba diblokir. Pavel Durov, sang pendiri sekaligus CEO Telegram, pun dibuat bingung dan akhirnya datang ke Indonesia.

Dalam wawancara eksklusifnya bersama detikINET, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara membeberkan semua kisah di balik layarnya. Mulai dari ihwal pemblokiran, sampai akhirnya berhasil mengajak bos Telegram itu datang ke Indonesia.

Rudiantara menjelaskan persoalan ini bermula ketika pemerintah menemukan banyaknya konten-konten negatif berupa radikalisme dan terorisme di Telegram. Untuk itu, Kominfo mengirimkan surat berupa email kepada Telegram agar segera mengatasi konten negatif yang dimaksud.

Rudiantara mengatakan bahwa Telegram ini banyak memuat konten radikalisme dan terorisme dan itu ditemukan di versi website bukan aplikasinya. Isi dari konten tersebut seperti cara membuat bom, cara menyerang, hingga ajakan lainnya dalam konteks radikalisme dan terorisme.

"Jadi tahun 2016 kami sudah berkomunikasi dengan Telegram pada bulan Maretnya, tiap tiga bulan sekali kirim email. Mengapa lewat email? Telegram ini berbeda dengan media sosial atau layanan pesan instan lainnya karena Telegram itu organisasi non-profit. Kalau yang lain ada kontak orang yang dihubungi, Telegram ini berbeda dan komunikasinya lewat email," ujar Rudiantara.

Namun email dari Kominfo ini diacuhkan oleh Telegram hingga satu tahun lebih. Padahal Kominfo, dikatakan Rudiantara, setiap tiga bulan selalu menghubungi layanan pesan instan besutan Durov itu.

"Setelah beberapa kali lewat email untuk take down radikalisme dan terorisme tidak ada jawaban, pemerintah bersepakat yang ini bukan hanya Kominfo tapi juga BNPT dan Polri juga mengikuti, pemerintah mengambil keputusan ya sudah blok saja karena gak tahu menghubungi ke siapa," ucapnya.

"Saya sempat tanya support mereka di Indonesia, Telegram punya voluntir di sini tapi mereka tidak merepresentasikan Telegram karena volunteer. Akhirnya kami bersepakat untuk lakukan pemblokiran," tambahnya.

Langkah pemerintah menutup akses Telegram untuk versi website ini dilandasi melindungi masyarakat dari terpaparnya pengaruh paham radikalisme dan terorisme. "Satu-satunya jalan ya blokir, nanti juga datang, pasti keluar dari sarangnya. Betul kan, begitu diblok timbul reaksi dari Pavel sendiri," kata Rudiantara.

Durov yang awalnya terheran-heran dengan kabar pemblokiran di Indonesia, yang kemudian ia mengecek bahwa Kominfo ternyata memang telah mengirimkan surat kepada Telegram. Pavel pun akhirnya menyadari ada masalah sehingga selama setahun ke belakang tidak mengetahui ada permintaan dari Kominfo tersebut.

"Pavel mengatakan ada komunikasi yang nggak pas, itu yang ke publik, yang ke kami Pavel kirim email mengatakan minta maaf. Saya apresiasi apa yang dilakukan Pavel, dia gentle dan setelah itu kami berkomunikasi," jelas pria yang disapa Chief RA ini.

Komunikasi antara Telegram dan Kominfo ini intens berlangsung pascapemblokiran menyeruak ke permukaan, tepatnya mulai 14 Juli lalu. Perlu dicatat, respons dari Telegram kepada Kominfo ini langsung diutarakan oleh Durov.

"Respons sama Pavel langsung, makanya saya katakan apresiasi apa yang dilakukan Pavel. Orang seperti beliau tadinya mempertanyakan (pemblokiran) lewat channel, setelah tahu besoknya buat lagi statement ada proses dari mereka yang tidak benar. Namanya minta maaf apalagi (perusahaan) besar lagi, ya kita harus respect lah," tuturnya.

Komunikasi ini berlangsung menggunakan saluran email. Rudiantara pun terlibat dalam komunikasi antara kedua belah pihak ini. Pada akhirnya, Rudiantara mengajak Durov untuk menyambangi Indonesia.

"Akhirnya saya sampaikan saya undang ke Indonesia, kalau Anda datang ke Indonesia, i will treat you lunch or dinner. Saya yang bayar pakai uang pribadi, nggak pakai uang negara," kata Rudiantara lagi.



Jalur Komunikasi Khusus

Setelah pertemuan itu, Kominfo dan Telegram pun sepakat membuat jalur komunikasi khusus untuk mempermudah koordinasi.

"Sebelumnya email-emailan, kita belum tahu pasti datang atau nggaknya kan lewat email, nggak ada nomornya (telepon). Saya tanya ke volunteer Telegram juga mereka nggak tau karena nggak pernah berhubungan dengan Pavel. Minggu lalu baru dikasih tahu tapi menginap dan jam berapanya belum tahu karena masih lewat email. Tapi setelah ketemu Pavel, semua terbuka," imbuh Chief RA.

Durov sendiri bukan pertama kali mengunjungi negara kepulauan ini. Pesona Indonesia telah membius Durov, di mana sebelumnya ia pernah berwisata di Raja Ampat dan Bali dengan skala lebih dari satu kali kunjungan.

"Akhirnya datang, ya sudah saya ajak makan siang. makan siangnya juga makanan Indonesia lah, sekalian promosi," kata Rudiantara.

Saat makan siang bersama antara Rudiantara dan Durov pada Selasa (1/8/2017) itu dilangsungkan secara privat. Pada kesempatan itu, Rudiantara menyampaikan kekhawatiran dari pemerintah. Lalu Durov meresponsnya dan akan melakukan perubahan pada sistemnya.

"Kita saling sama-sama menghormati, saya bahkan menghargai sikapnya Pavel yang gentle untuk lakukan perubahan. Setelah makan lalu ke kantor sini, bahas secara detail dengan teman-teman di Aptika, terus saya ke Istana karena ada rapat terbatas.

"Ya sudah sekarang (tinggal) masalah teknis, saya sampaikan SOP (standard operating procedure) selesai secara teknis, beliau juga buat script algorithm di sistem mereka agar bisa melakukan self censoring dulu, kalau kelolosan bagaimana kita menanganinya, kan harus berlapis dulu," kata pria kelahiran Bogor ini.

Pavel pun menjawab dengan diplomatis. "I will talk to my brother first," seperti ditirukan oleh Menteri Rudiantara. (rou/rou)
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed