Kamis, 01 Jun 2017 03:35 WIB

Polri Kebanjiran Laporan Hate Speech dari Medsos

Mei Amelia R - detikInet
Foto: Reuters/Kacper Pempel Foto: Reuters/Kacper Pempel
Jakarta - Perkembangan teknologi informasi seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, teknologi dapat bermanfaat positif, tapi berdampak negatif bila digunakan tidak secara bijak.

Penggunaan teknologi informasi yang tidak bijak dan disalahgunakan kemudian memunculkan kejahatan siber. Kejahatan siber yang laporannya diterima kepolisian bervariasi, dari kejahatan perbankan, prostitusi, hingga penipuan yang dilakukan secara online.

Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri AKBP Purnomo mengatakan mayoritas kejahatan siber yang diterima kepolisian berupa pencemaran nama baik dan hate speech ataupun tindak pidana diskriminasi berdasarkan SARA melalui media sosial dan online.

"Kalau dipresentasikan, 80 persen itu hate speech. Dari semua kasus yang ada, kalau seluruh Indonesia bisa ribuan (kasus)," ujar Purnomo saat menjadi pembicara dalam acara diskusi bulanan yang diselenggarakan oleh Pokja Wartawan Polda Metro Jaya di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (31/5/2017).

Kasus ujaran kebencian itu tidak hanya yang terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya. "Kalau daerah kita limpahkan ke Polda yang sudah punya unit cyber crime, karena tidak semua Polda punya unit itu," tuturnya.

Kejahatan siber itu meningkat tajam, terutama menjelang Pilkada 2017. "Apalagi kemarin pas menjelang pilkada, itu (hate speech) paling banyak. Dulu kan penipuan online (yang mendominasi), sekarang ketutup sama hate speech," tuturnya.

Purnomo mengatakan, sejak awal 2017 sampai Mei 2017, pihaknya sudah mengungkap 10 kasus hate speech ataupun SARA. Beberapa yang ditangkap adalah pelaku ujaran kebencian terhadap pejabat negara, seperti Presiden Joko Widodo dan Kapolri Jenderal M Tito Karnavian.

"Kita tangkap karena ada unsur SARA-nya," katanya.

 Diskusi Pokja Wartawan Polda Metro Jaya di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (31/5/2017).Diskusi Pokja Wartawan Polda Metro Jaya di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (31/5/2017). Foto: Mei Amelia/detikcom


Yang terbaru, Direktorat Siber Bareskrim Polri menangkap Ahmad Rifai Pasa (37), pelaku ujaran kebencian yang menyebutkan peristiwa ledakan bom di Kampung Melayu, Jakarta Timur, sebagai sebuah rekayasa.

"Tetapi bukan itu saja dasar kita tangkap yang bersangkutan. Sebelumnya dia juga mem-posting posting-an SARA dan sudah lama melakukan ujaran kebencian di medsos," katanya.

Terkait dengan hal itu, Rifai pun telah menyampaikan permintaan maaf kepada Kapolri dan publik. Namun, lanjut Purnomo, proses hukum tetap berlanjut.

Berkaca dari sekian banyak kasus siber ini, pihak kepolisian berharap hal itu menjadi pembelajaran bagi masyarakat lain, terutama mereka yang aktif bermain media sosial.

"Bahwa di medsos kita haruslah bijak, mempergunakan sesuai kebutuhan kita, jangan sampai saling menghujat dan komentar yang tidak ada dasarnya, karena di medsos bisa dilihat siapa saja," tuturnya.

Sementara itu, pakar IT Ruby Alamsyah mengatakan kejahatan siber dapat ditelusuri, meski identitas atau jati diri pelaku disembunyikan.

"Penelusuran posting-an (berupa) dokumen atau informasi elektronik tertentu yang ada di medsos atau website itu dapat dilakukan penelusuran secara pasti, tapi memang tingkat kesulitannya pasti berbeda-beda," kata Ruby.

Karena itu, pengguna diminta bijak menggunakan media sosial. Sebab, jika media sosial digunakan untuk hal yang negatif, hal itu dapat menimbulkan efek yang lebih besar.

"Jadi think before click, think before posting itu patut dilakukan saat ini bagi para netizen agar menggunakan medsos lebih positif," kata Ruby. (mei/rou)