Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Dolar Tinggi, Pengadaan TI Mesti Diakali

Dolar Tinggi, Pengadaan TI Mesti Diakali


Ardhi Suryadhi - detikInet

Rayyan Sugangga (Ist.)
Jakarta -

Menggilanya nilai tukar dolar terhadap rupiah pastinya berdampak ke pengadaan barang dan jasa teknologi informasi (TI). Jika sudah begini, maka perusahaan harus pintar-pintar mengakali.

Mengakali di sini tentu saja bukan dalam arti yang negatif. Maksudnya adalah, perusahaan harus lebih cerdik dalam membuat kebijakan pengadaan TI tanpa harus mengorbankan operasional perusahaan.

Rayyan Sugangga, peneliti dari lembaga riset Sharing Vision mengungkapkan, nilai tukar dolar yang terus merangkak naik dan bersifat fluktuatif jelas mempengaruhi harga produk dan jasa TI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dolar melonjak sangat berpengaruh. Apalagi price list kan banyak yang dolar sebelumnya, meski sekarang bayarnya sudah wajib pakai rupiah tetap saja dikonversi dari rate dolar yang tinggi," jelasnya kepada detikINET.

"Sebagian besar barang TI merupakan barang impor jadi pastinya harga barang TI akan mengikuti harga dolar," lanjut Rayyan.

Lantas, apakah ini berarti dolar yang tinggi membuat perusahaan secara otomatis menghentikan pengadaan TI? Tidak juga!

Rayyan menuturkan, hal itu tergantung dari kondisi masing-masing perusahaan. Selama budget tersebut masih masuk anggaran, biasanya pengadaan barang dan jasa TI tersebut tetap dijalankan.

"Kalau terpaksa anggarannya terbatas maka akan switch anggaran, atau yang paling fatal ya pending, dengan catatan ditundanya pengadaan TI itu sifatnya tidak mendesak dan tidak berpengaruh ke core bisnis," imbuhnya.

Sementara bagi perusahaan yang tetap melakukan pengadaan TI, dampak menggilanya dolar bisa saja memaksa mereka untuk melakukan revisi pengajuan pembelian barang. Menurut Rayyan, hal ini terkait HPS (Harga Perkiraan Sendiri) yang akan dikeluarkan. Nilai dolar yang fluktuatif, menyebabkan nilai HPS yang dikeluarkan harus dengan analisis tepat, karena berpotensi menyeret ke pusaran korupsi atau menimbulkan kerugian yang besar.

"Menghitung HPS jadi fluktuatif, jadi harus lebih teliti. lebih tinggi risikonya dibandingkan saat dolar masih stabil," ia menegaskan.

Saking ingin telitinya bahkan dalam analisis pengadaan TI ini disertakan konsultan pendamping yang sudah tersertifikasi. Alasannya, karena bicara TI itu membutuhkan kompetensi khusus. Terlebih bagi hal-hal yang sangat teknis, misalnya menghitung trafik, spesifikasi server yang dibutuhkan untuk masing-masing perusahaan sampai menghitung harga wajar bagi suatu aplikasi yang telah dimodifikasi.

"Kehadiran konsultan TI ini untuk memenuhi prinsip kehati-hatian. Jika barangnya sangat umum seperti gadget atau PC dengan spesifikasi rendah mungkin bisa langsung ke toko, tetapi kalau barangnya complicated, sebaiknya memang minta bantuan konsultan pendamping," pungkas Rayyan.

Inti dari pengadaan TI adalah perusahaan memperoleh barang dan jasa sesuai kebutuhannya, hasilnya optimal dan aman secara administrasi agar tak menjadi temuan audit yang menimbulkan permasalahan di kemudian hari.

Memang, pada umumnya, pengadaan barang dan jasa TI membutuhkan kecepatan dan diharapkan hasilnya optimal sesuai kebutuhan perusahaan. Tapi yang terpenting adalah proses yang dilakukan itu harus aman. Dalam arti mengikuti prosedur sehingga ke depannya tak ada masalah hukum.

(ash/yud)





Hide Ads