Perwakilan BSA Indonesia, Donny A. Sheyoputra mengatakan, sebagai saksi ahli, BSA dirasakan cukup berperan dalam meluruskan sejumlah perselisihan terkait penggunaan software. Sebab diantara 108 kasus itu ada juga yang tidak cukup bukti menggunakan software bajakan.
Dalam satu kasus di Jawa Timur misalnya, BSA mengaku berhasil meluruskan kasus penyitaan sejumlah unit komputer sebuah perusahaan yang diduga menggunakan software tak berlisensi. Padahal belakangan diketahui, si tertuduh menggunakan software Open Source atau software gratis lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sementara Zahir International, penyedia software lokal lainnya yang menetapakan harga relatif murah antara Rp 1 juta β 15 juta justru banyak dibajak," kata Donny dalam keterangan tertulisnya.
Sejumlah perusahaan software juga telah menurunkan harga software-nya untuk keperluan pendidikan dan akademik. Bahkan ada penyedia piranti lunak yang memiliki kebijakan memberikan software gratis untuk kepentingan akademisi. Sayangnya justru ketika dilakukan pendekatan, ada pihak yang menyalahgunakan program tersebut untuk kepentingan pribadi.
Donny juga menyebut kasus ketika Zahir International pernah bermaksud memberikan software-nya secara cuma-cuma untuk kalangan akademisi, namun justru ditolak oleh sejumlah oknum agar software tersebut dikenakan harga. "Sebab dengan diberikan label harga ini memungkinkan oknum tersebut untuk melakukan mark up,"ujarnya.
Jadi, lanjut Donny, kendati telah disediakan sejumlah program software gratis maupun program paket murah, banyak pihak yang justru ingin menikmati keuntungan untuk kepentingan pribadi.
(ash/dwn)