Menurut prediksi perwakilan Business Software Alliance Indonesia Donny A. Sheyoputra, persentase software yang dibajak di tanah air pada tahun ini akan mengalami penurunan.
Kendati demikian, lanjutnya, secara nominal kerugian atau potensi pendapatan yang hilang kemungkinan justru malah meningkat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kondisi tersebut bisa terjadi lantaran kondisi pasar atau kue industri piranti lunak semakin besar saat volume pembajakan turun. Karena kue (pasar)-nya semakin besar, akibatnya potensi kerugiannya juga makin besar pula," jelasnya dari keterangan tertulis yang diterima detikINET, Selasa (11/11/2008).
Kondisi seperti ini terjadi di pasar Amerika Serikat yang volume pembajakannya hanya 20%. Tapi kerugiannya paling besar dibandingkan negara-negara lain di dunia, imbuh Donny.
BSA sendiri memandang pembajakan itu dalam beberapa model. Pertama, corporate end user piracy atau pembajakan yang dilakukan oleh pengguna akhir perusahaan. Kedua, retail piracy alias pembajakan oleh pedagang secara eceran. Ketiga, hard disk loading piracy yaitu toko komputer yang mengisi produk komputernya dengan piranti lunak bajakan.
"Concern BSA adalah corporate end user piracy karena kerugian yang ditimbulkan bagi industri piranti lunak besar sekali. Sedangkan pembajakan kategori kedua lebih disukai pihak kepolisian, dan yang ketiga biasanya menjadi concern perusahaan-perusahaan vendor anggota BSA," Donny menandaskan. (ash/fyk)